Wednesday, February 20, 2008

Alhamdulillah...


Penghargaan Bagi 10 Karya Jurnalistik Terbaik
20 Feb 2008

JAKARTA, 20 Februari 2008 – Copa Dji Sam Soe Indonesia tak hanya memberikan penghargaan bagi para pelaku di lapangan hijau. Kalangan media massa juga mendapat penghargaan. 10 karya jurnalistik terbaik yang masing-masing terdiri dari 5 foto terbaik dan 5 tulisan terbaik mendapat penghargaan di malam anugerah Bintang Emas Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007, Selasa (19/2), di Hotel Mulia, Jakarta.

Masing-masing pemenang mendapat hadiah Rp. 5 juta. Lomba penulisan dan foto ini diikuti media massa dari seluruh penjuru tanah air. Dewan juri terdiri dari para wartawan dan fotografer senior di Indonesia. Dewan juri diketuai oleh wartawan senior Mahfudin Nigara. “Saya harap, rekan-rekan yang belum berhasil menjadi pemenang tak kecil hati. Teruslah berkarya,” ujar Nigara.

Pemberian penghargaan bagi insan-insan pers bukan baru kali ini saja diselenggerakan Copa Dji Sam Soe. Pada Copa Dji Sam Soe Indonesia 2005 dan 2006, lomba serupa juga digelar. Tak hanya mendapat hadiah Rp. 5 juta. Para pemenang lomba karya jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 juga berkesempatan ikut ajang bergengsi lainnya.

“Semua karya pemenang ini otomatis akan diikutsertakan dalam ajang bergengsi Adiwarta Sampoerna,” kata Effendi Gazali, pengamat politik dan staf pengajar pascasarjana Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia yang tampil di atas panggung untuk membacakan nama-nama pemenang. Menurut Effendi, media massa sangat berperan dalam membangun sepakbola Indonesia. (Daf)

5 FOTO TERBAIK
“Kontras”, karya Rengga Sancaya (Top Skor)
“Kontras”, karya Husni Yamin (Top Skor)
“Duel Udara”, karya Sugeng Deas (Jawa Pos)
“Kepala Adu Kepala”, karya Danu Kusworo (Kompas)
“Persija Menang”, karya Andika Wahyu (Antara)

5 TULISAN TERBAIK
“Dari grassroots hingga pejabat”, karya Hanif (Soccer)
“Pembinaan sepakbola yang masih setengah-setengah”, karya Azhari Nasution (National News)
“Berduyun-duyun naik feri”, karya Ario Yosia (BOLA)
“Babak 16 besar mengarungi 23.700 km”, karya Jalu Wisnu Wirajati (Soccer)
“Menatap prestasi lewat Copa Dji Sam Soe”, karya Mussahada (Kedaulatan Rakyat)

Sumber:
http://www.djisamsoe.com/?opt=community&type=sepakbola&show=detail&pages=news&detail=1&id=2016

Friday, January 18, 2008

Aku ke selatan, dia ke utara


Entah apa yang membuatku begitu bersemangat untuk menyegerakan mandi sebelum pukul 07.00. Padahal, jangankan untuk mengguyurkan ke seluruh tubuh, berwudhu saja jelang shalat shubuh sudah membuatku malas lantaran bersentuhan dengan air di udara sedingin pagi di musim penghujan seperti ini.

“Uhhh… Andaikan setiap pagi kran air di kamar mandi berhenti mengalir, tentu aku bisa bersorak lantaran terbebas dari berwudhu. Andaikan aku hidup di Gurun Sahara, tentu aku bisa memulai kewajiban pagi hanya dengan bertayamum terlebih dulu.” Seperti itulah harapan semu yang selalu aku impikan setiap pagi.

Arloji yang telah kupakai menunjukkan pukul 07.23. Masih ada waktu 7 menit sebelum aku bisa segera mengetahui hal yang sangat kuharapkan sejak akhir pekan kemarin. Setelah mengoles rambutku dengan gel agar terlihat bak anak punk yang sedikit shaleh, aku pun segera bersepatu.

Pukul 07.28 aku telah berdiri di depan pintu kamar kostku. Mengunci pintu, kemudian melangkah ke barat menuju gang sempit yang menghubungiku dengan dunia luar. Tepat pada ujung lorong, aku berdiri sebentar. Jantungku pun berdegup kencang. Dia melangkah di hadapanku.

Dia akan berjalan melangkah di depanku. Dia berjalan santai menuju utara. Setelah dia melangkah kian jauh ke arah utara dan hampir tak tampak bayangan punggunya, aku pun melanjutkan perjalananku menuju kantor yang berada di barat. Dia tampaknya memang digariskan untuk menggoda jiwaku. Hal itu baru kusadari pada Kamis pekan lalu.


Pagi itu adalah matahari Kamis terakhir yang terbit di timur menjelang pergantian tahun. Aku tak bisa tidur lagi usai shalat shubuh lantaran sudah cukup kenyang mengabiskan malam di peraduan sejak pukul 21.00. Daripada bengong dan merasa kegerahan lantaran kipas angin di kamar mati, aku memutuskan mandi dan segera berangkat menuju kantor yang hanya berjarak sepelemparan batu.

Sedikit tergopoh-gopoh karena di mulutku masih tergigit sehelai roti tawar tanpa beroleskan apa pun, aku berjalan keluar dari kamar kost. Sesampainya di ujung lorong gang, tiba-tiba aku melihat sesosok makhluk cantik berjalan tak jauh di depan mataku. Dia berjalan dari arah selatan menuju utara. Sebuah keberuntungan aku bisa melihat makhluk indah ciptaan Sang Pencipta pada pagi hari sebelum melalui rutinitas kerja yang dipastikan bakal menimbulkan kekesalan di antara para karyawan. Saat itu, aku melirik arloji. Pukul 07.31.

Pada saat pertama melihatnya, aku hanya merasa tengah dinaungi keberuntungan. Dia sangatlah berbeda. Padanan warna yang membalut tubuhnya sangatlah indah dan padu padan. Alangkah beruntungnya aku jika bisa melihatnya lagi di lain waktu. Tapi, Pikiran itu kubuang jauh-jauh.

Sosok cantik seperti dia tentu tak bisa dikira. Bisa saja, dia punya janji makan yang berbeda. Bisa saja siang hari dia mampir makan di rumah Tuan A dan sorenya minum-minum di kafe dengan Mas B. Lagipula, lightning never striker twice in the same place, isn’t it?

Namun, pada hari itu, petir tampaknya menyambar tempat yang sama. Tempat yang menjadi penghubung dunia luar dengan kostku.


Sore hari, usai pulang kerja, dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri trotoar yang jika diukur memakai busur derajat manapun, akan berjumlah 180 derajat dengan tempatku bekerja. Kepalaku tak kuangkat. Hanya menatap trotoar yang bentuknya sudah tak keruan lantaran tergerus upaya modernisasi ibu kota negara yang mengklaim sebagai metropolitan ini. ”Pembangunan kabel internet, Mas,” jawab tukang gali ketika aku menanyakan untuk apa pipa dan lubang sebesar itu di depan gang menuju kostku.

Sore hari, aku pulang kantor lebih cepat. Sebab, hari itu aku merasa kesal sekali. Ingin rasanya mengeluarkan umpatan makian lantaran hari itu begitu buruk menurutku. Daripada aku bertahan dan gampang mengeluarkan kata makian, lebih baik aku ambil tasku dan segera beranjak pulang.

Aku kemudian memencet tanda panah ke bawah di depan pintu lift. Untuk kali pertama selama bekerja di salah satu media nasional ini, aku pulang sebelum jam besar di lobi kantor berdentang lima kali, tanda waktu normal karyawan pulang kerja.

Tak ada yang berani menyapaku saat keluar dari kantor. Di lift. Bahkan satpam di lobi depan yang biasa bercanda, tampaknya memahami dengan apa yang aku alami. Mereka bergeming.

Perjalanan dari kantor ke kost tak membutuhkan waktu lama. Tak sampai 10 menit aku sudah berada di gang yang kadang membuat dadaku terasa sempit karena setelah melangkah melalui jalan kompleks yang dihotmix, beralih ke jalan setapak yang tak disemen sama sekali. Andai awan yang menggelayut di atas kota sudah memuntahkan isi perutnya, alamat bagian bawah sepatuku akan berhiaskan tanah abang yang pekat. Itu berarti, menambah pekerjaan kasar sebelum masuk ke kamar kost.

Tepat pada pukul 05.00, saat aku tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dia. Ya, dia yang juga melintas di hadapanku jelang berangkat ke kantor, kini muncul saat aku pulang kerja. Dia berjalan pelan menuju selatan. Arah mata angin yang berlawanan dibandingkan saat dia pergi di pagi hari.

Jiwa investigatif layaknya seorang kuli tinta ini kemudian tergerak untuk mencari tahu. ”Apakah dia selalu pergi dan pulang sesuai jadwal reguler?” Begitu pikirku.

Keesokan harinya, aku mencoba mencari tahu. Tepat pada pukul 07.30 aku sudah berada di ujung gang. Dan, benar saja, hanya butuh waktu semenit, dia kembali muncul. Juga dengan gerak anggun yang sama. Melangkah dari selatan ke utara.

Sore harinya, aku kembali pulang lebih cepat. Sebelum pukul 17.00 aku sudah berada di depan gang kostu. Lagi-lagi, keinginan saya terkabul. Dia kembali muncul di hadapanku. Sama seperti di pagi hari, tak sekali pun dia menolehkan pandangannya kepadaku. Toh, hal itu justru membuat darahku tergelak dan denyut nadi ini semakin kencang laksana genderang mau perang....


Secara tanpa sengaja, aku merasa, kami terikat oleh lingkaran waktu. Setiap pukul 07.30 tiap harinya, dia akan melakukan repetisi yang sama. Berjalan dari arah selatan menuju utara. Dan, hingga tiga bulan telah berlalu, musim hujan mulai beralih ke musim kemarau, belum sekali pun dia memalingkan wajah kepadaku. Padahal, nyaris setiap hari dia melintas di hadapanku.

April tampaknya menjadi bulan keberuntungangku. Sejak masih bayi, banyak hal yang membahagiakan terjadi pada bulan keempat menurut tarikh masehi ini. Ibuku pernah berkata, saat berumur tujuh bulan, dia sempat lupa menutup ranjang bayi saat berangkat tidur. Akibatnya, aku nyaris terjatuh dari ranjang berwarna hijau itu. Beruntung, saat nyaris terjatuh, ayahku yang lembur membuka pintu kamar dan langsung melompat untuk menahan aku terjatuh dari ketinggian 50 centimeter.

Saat aku beranjak dewasa, makin banyak anugerah yang dilimpahkan Allah kepadaku di bulan April. Mulai dari cinta monyet pertama, kartu kredit pertama, hingga merasakan lulus dari salah satu universitas negeri beken di tanah air. Meski indeks prestasi pas-pasan, aku merasa bangga lantaran menyelesaikan ujian komprehensif dengan waktu tercepat, hanya 25 menit! Tercepat untuk seluruh jurusan yang ada di fakultasku.

Dua kejadian membahagiakan terakhir yang kuingat pada April ini terkait dengan tempat kerjaku sekarang juga pasangan resmiku. Pada 1 April, tiga tahun lalu, aku diangkat menjadi karyawan di salah satu anak perusahaan media terbesar di tanah air. Tahun lalu, pada 23 April, aku menembak perempuan yang kini telah menganugerahiku seorang putra berumur satu bulan.

Kini, keberuntungan lain tampaknya terhampar di depanku. Pada 26 April, empat bulan setelah pertemuan pertamaku dengan dia, aku berkesempatan melihat detail wajahnya. Saat itu, aku menjatuhkan handphone yang asalnya ingin dimasukkan ke dalam saku celana usai menelepon. Aku pun membungkuk mengambilnya. Tepat pada saat itulah aku melihat matanya. Sorot mata nan indah pun tajam. Pandangan yang bisa menggetarkan para pecinta dia.


Tatapan mata pada pagi itu memang telah membuat rasa penasaranku akan sorot matanya sedikt terobati. Namun, rasa penasaran lain muncul. Sejak aku melihat mata indah itu, tak sekali pun aku melihatnya lagi. Sudah beberapa hari aku tak melihat dia melintas di hadapanku padahal telah berulang kali aku menyengajakan untuk pergi lebih pagi dan pulang lebih cepat.

Bulan pun berganti. Angin musim kemarau kian kencang meniup dedaunan kering di depan kamar kostku. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil menyelinap melalui sela-sela pintu dan masuk sehingga mengotori kamar kostku.

Meski begitu, aku tak ambil pusing. Bagiku, kehilangan dia selama 7 hari terakhir lebih menimbulkan pertanyaan. Hal itu juga sempat membuat khawatir istriku yang tinggal di kota kelahirannya. Tanpa rasa cemburu, melalui telepon, dia mengatakan, ”Sudah, tanyakan saja kepada tetanggamu. Pasti ada yang mengenalnya.”

Atas saran istri jualah, aku memberanikan diri untuk mencari tahu tentang dia. Enam orang pertama yang kukenal hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Orang ketujuh hingga keenam belas ditanya, ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. ”Saya pun kangen. Padahal, belum sekali pun saya mengajaknya untuk makan di rumahku,” bilang orang keempat belas. Dengan redaksional berbeda, 9 orang lainnya menjawab senada.

Baru pada sosok ketujuh belas aku menemukan jawaban. Orang itu seorang pria berumur 56 tahun dengan rambut hitam kemerahan akibat memakai semir murahan. Dia adalah seorang penjaja buah-buahan di pinggir jalan raya, dekat kantor dan kostku. Namun, bukan jawaban yang membuat hati ini cerah. Justru penjelasan memilukan yang membuat hati ini merasa bergetar hebat menahan rasa iba.

”Seminggu yang lalu, ketika coba melintasi jalan ini, dia tertabrak motor. Tubuhnya terpelanting hebat hingga terperosok ke dalam selokan sebelah sana,” jelas si penjual buah seraya mengacungkan pisau sebagai alat bantu menunjukkan arah. Ujung mata pisau itu mengarah ke ruas selokan di depan kantor yang menerbitkan petunjuk buku telepon.

Aku pun beringsut bergerak menuju arah yang dimaksud. Begitu aku melongokkan kepala, tak kuasa kornea ini menahan ait mata. Aku melihat sosok indah yang selama empat bulan ini melangkah ke utara saat aku pergi bekerja dan melintas ke selatan saat aku pulang, hidupnya berakhir dengan tragis. Kucing berbulu laksana tembaga itu kini tinggal tersisa tulang dan kulitnya yang telah mengering. Tak ada lagi keindahan yang tersisa.

Sunday, December 9, 2007

Dua sisi mata uang

Allah SWT memang mengetahui mana yang terbaik buat hamba-Nya.
Ketika memberikan berkah, di sisi lain Dia pun akan menguji sang hamba dengan cobaan yang diberikan.

Itulah yang dialami kala saya bersyukur menyambut kehadiran putra pertama kami. Pada saat menunggu istri menunggu detik-detik lahiran. Atau tepatnya ketika masih pada tahap Bukaan 4, istri saya melihat ada bintil di bawah leher. Saya awalnya - juga diyakini oleh perawat yang menemani istri saya - itu adalah jerawat.
Namun, kondisi fisik saya yang sudah hareeng alias demam dari semalam jelas mempunyai indikasi lain. Saya mendapatkan cacar air. Bingo...
Tapi, cacar air adalah penyakit yang akan menular ketika pasien sudah memasuki taraf penyembuhan. Berbekal Basmalah, saya meneruskan untuk menemani istri saya lahiran - meski tak berada satu ruangan dengannya.

Begitu tangis sang jagoan kecil terdengar, tak kuasa saya menahan derai air mata. Padahal, saya sebelumnya berprinsip, "Laki-laki sejati dilahirkan di dunia bukan untuk meneteskan air mata, melainkan darah!" But, dalam hal ini, perasaan saya sebagai seorang laki-laki sejati tak bisa dibohongi. Air mata itu bukanlah antitesis dari sifat maskulin laki-laki. Sebatas ucapan syukur yang tak terucapkan kepada Sang Pencipta.

Kembali ke pokok persoalan, lantaran cacar dan takut menulari sang junior, maka saya mendelegasikan tugas melantunkan adzan dan iqamah kepada kakek dari sang bayi. Saya sendiri tak kuasa untuk beranjak karena kondisi badan semakin panas. Saya pun terpaku di kursi di salah satu sudut ruang tunggu.

Benar saja, usai dari rumah sakit dan kemudian ke dokter, saya divonis menderita cacar air. Saya diharuskan beristirahat 10 hari lamanya. Sebetulnya, waktu penyembuhan hanya memakan waktu seminggu. Namun karena penyakit ini tergolong Virula saat memasuki masa penyembuhan, maka saya diberi waktu istirahat lebih untuk tidak menulari rekan-rekan baik teman sekantor maupun sepermainan.


Istirahat. Mungkin memang itulah yang saya butuhkan. Namun, ada hal lain yang membuat saya sedih dengan keadaan itu. Saya terpaksa diisolasi dan tidak tinggal bareng istri dan anak. Saya dikembalikan kepada orangtua sementara mereka tinggal bareng mertua. Hingga tulisan ini dipublikasikan, belum sekali pun saya menggendong bahkan menyentuh Gentza. Tapi, saya percaya, Allah Maha Mengetahui. Dia tahu yang terbaik buat hamba-Nya.

Sabar ya Gentza...

Gentza Manah Wirabuana


Alhamdulillah...
Akhirnya putra pertama kami lahir sesuai dengan waktu perkiraan dr. Udin Sabarudin, SpOG.
Pada Selasa, 27 November 2007 atau bertepatan dengan 17 Dzulqaidah 1428 H pukul 14.40 WIB, istri saya melahirkan putra pertama kami di RSIA Tedja, Bandung.
Setelah menahan mules - sejak pertama kali merasakan pada pukul 03.30 WIB - istri saya berhasil melahirkan secara normal bayi laki-laki dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg.

Bayi itu kemudian kami beri nama Gentza Manah Wirabuana. Sesuai perjanjian dengan para saudara sepupu satu klan, kami memang sepakat untuk memberi nama anak dengan menggunakan kata yang berawalan huruf G. Kata Gentza sendiri saya ambil dari bahasa Basque - salah satu suku bangsa di Spanyol selain Andalusia dan Katalan - yang mempunyai arti kedamaian.

Kata kedua kami ambil dari bahasa Sunda. Dan memang sudah keinginan saya pribadi untuk menggunakan bahasa ibu pada salah satu unsur nama dari anak kami. Manah sendiri berarti hati.

Sementara, unsur nama ketiga berasal dari bahasa sansekerta. Asalnya saya akan menggunakan nama Jagadditha yang berarti mensejahterakan dunia. Namun, istri saya mengatakan agar nama ketiga mempunyai padanan dengan nama ayahnya. Maka dipilihlah penggalan Wira yang diambil dari nama ketiga saya Wirajati. Dan, buana merupakan padanan dari kata dunia. Sedangkan Wira berarti perwira atau laki-laki yang mempunyai sifat ksatria dan berguna.

Jadi, secara keseluruhan, arti nama putra pertama saya itu bisa diartikan Laki-laki yang memberikan kedamaian di hati dan berguna bagi dunia. Itulah doa kami bagi putra pertama kami. Amin...

Friday, November 23, 2007

At last...

Setelah lama disibukkan oleh banyak hal menyangkut urusan duniawi, akhirnya saya bisa kembali menulis di blog tercinta ini. Pekerjaan kantor seperti yang tidak akan habis-habis dan rasa malas memang sempat membuat saya malas, bahkan untuk sekadar membuka blog ini. Tengok saja, postingan terakhir yang saya masukkan adalah saat usai berbulan madu dari Bali. Kini, saya sedang deg-degan menunggu kelahiran buah hati kami yang diprediksi oleh dokter akan lahir pada Selasa, 27 November ini.

Banyak yang bilang, menunggu mempunyai arti tak jauh beda dengan menanti. Sebab, dalam kamus besar bahasa Indonesia pun dijelaskan seperti itu. Tunggu = 1. Nanti vice versa Nanti = 1. Tunggu

Tapi, benarkah bisa diumpamakan seperti itu?

Contoh saja situasi yang saya alami hari ini. Mana yang benar, apakah saya sedang deg-degan menanti kelahiran sang buah hati, atau saya sedang deg-degan menunggu kelahiran sang buah hati?

Tampaknya saya cenderung memakai kalimat yang kedua. Sebab, penekanan dalam kata menunggu adalah (tanpa bermaksud mendahulukan kehendak Sang Kuasa) sesuatu yang pasti. Beda halnya dengan penantian, sebuah pekerjaan hal yang belum jelas juntrungannya.

Kini yang menjadi persoalan, jika nanti dan tunggu mempunyai arti yang sama, apakah kata Penantian bisa diganti dengan Penungguan?

Hmmm… yang jelas, saat ini saya tengah menikmati rasa deg-degan yang berkecamuk di hati saya… Salam...

Tuesday, February 27, 2007

Bali.. Oh Bali...


Setelah sekian lama, pertengahan Februari lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Bali, Pulau Dewata yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi tempat tujuan wisata para pelancong dari mancanegara. Namun, ada yang berbeda dari saat pertama saya mengunjungi Bali sewaktu kelas 1 SD dengan yang terakhir kali ini. Bukan dari pembangunan infrastruktur yang semakin maju. Melainkan dari jumlah wisatawan yang semakin jauh berkurang.
Bom yang meletus dua kali di pulau itu tampaknya yang menjadi penyebab kemunduran itu. Saat pertama, saya menyalahkan pelaku pemboman itu. Terkadang juga terpikirkan bahwa yang menskenario ledakan itu adalah pihak barat yang sengaja ingin menghancurkan citra negeri ini. Namun, dari kunjungan terakhir ke Bali itu, skenario baru pencetus ledakan itu terpikirkan.

Siapa? Pemerintah Malaysia.

Begini dasar pemikiran saya. Imam Samudra atau Amrozi memang adalah (diduga) pelaku pemboman itu. Namun, siapa dalang di balik itu? Dr. Azahari dan Nurdin M. Top, keduanya adalah warga negara Malaysia.

Lantas, apa hubungannya dengan pemerintah Malaysia? Pariwisata.

Bisa saja, pemerintah Malaysia iri dengan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Karena itulah, demi menggalakkan pariwisata di daerahnya, Malaysia meminta dua orang itu untuk merencanakan pengeboman terhadap Bali. Dengan harapan, ada ketakutan dari negara-negara Barat untuk mengizinkan warganya berkunjung ke Bali. Sehingga, Malaysia yang secara teritorial merupakan tetangga Indonesia, "kecipratan" luberan wisatawan dari barat.

Ini baru anggapan saja. Bukan sebuah fakta atau aksioma. Namun, anggapan saya ini berdasar pada jumlah wisatawan barat yang datang ke Malaysia semakin bertambah - sejak kasus Bom Bali - seiring dengan penurunan jumlah wisman yang datang ke Bali.
Wallahualam....

Wednesday, January 17, 2007

Indonesia Raya...


Kemarin saya mengikuti pelatihan yang diadakan di kantor. Temanya adalah tentang Motivasi dan teknik Coaching orang. Bukan hasil akhir yang membuatku terkesan. Tapi cara instruktur itu memulai pelatihan. Dia memulainya dengan mengajak semua peserta berdiri kemudian menghadap Sang Merah Putih (Bukan Sang Saka Merah Putih, Pasal 35 UUD 1945) sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.

What an amazing...
Bukan lantaran saya sudah lebih dari 8 tahun tak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia itu. Tapi, saya merasakan energi positif ketika menyanyikan lagu yang dibuat pada 1928 itu secara bersama-sama, khidmat, dan penuh perasaan. Meski saya belum memberikan jasa besar bagi negeri ini, tapi saat itu saya merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami Taufik Hidayat ketika merebut medali emas pada Olimpiade Athena 2004 lalu.
Apakah upacara seperti itu jika dilakukan di rumah akan menghadirkan kegairahan yang sama? Keesokan paginya, saya mencoba mengulangi ritus itu sendiri. Yang menjadi pembeda adalah saya melakukannya dengan diiringi lagu Indonesia Raya yang disiarkan salah satu televisi nasional ketika membuka hari. Hmmm... energi yang sama kurasakan juga. Hal yang membuatku membuka hari dengan semangat.

Saya pun berpikir, apa jadinya apabila seluruh rakyat Indonesia melakukan ritus itu setiap paginya? Mungkin efeknya akan sama dengan yang biasa orang Jepang dilakukan di pagi hari, ketika membungkuk ke arah matahari setiap pukul 7 pagi. Ingat, dengan kebiasaan itu, Jepang kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Saya berandai-andai saja. Andaikan kebiasaan menyanyikan Indonesia Raya, bisakah negara ini maju seperti bangsa Jepang? Bisa jadi. Sebab, jika dilihat dari masalah sumber daya, Indonesia jelas lebih kaya dibandingkan Negeri Bunga Seruni itu, baik sumber daya alam pun manusia. Masalah kepintaran pun bisa diadu. Beberapa siswa dari negeri ini sanggup meraih medali emas pada olimpiade ilmu pengetahuan yang notabene diikuti negara-negara besar di seluruh dunia. Soal fisik pun kita jelas lebih hebat dibandingkan negara yang pernah menjajah kita selama 3,5 tahun itu.

Lantas, apa yang membedakan kita dengan Jepang? Mental.... Akibat penjajahan yang lama menimpa negeri ini, mental bangsa kita tetaplah seperti kurcaci. Sikap positif yang ada terkungkung oleh paradigma negatif yang telah ditanamkan ke otak kita sejak bayi. Ketakutan dan kekhawatiran masih menjadi salah satu faktor penimbang kita dalam menetapkan keputusan. Tanpa sadar, terbentuk LOW TRUST SOCIETY di negeri ini.

Apa hubungannya dengan Indonesia Raya? Mungkin tidak akan langsung mengubah dogma dan paradigma yang telah mengakar di masyarakat kita. Tapi, lagu itu setidaknya bisa membangkitkan ghirah alias semangat juang kita dalam menyikapi hidup. Setidaknya sejak kita menyanyikan lagu itu hingga terlelap kembali. Mungkin jika itu dilakukan berkali-kali dan bersifat umum, lambat laun kita bisa menjadi bangsa yang setidaknya lebih maju dari saat ini.

Setidaknya, itulah yang dirasakan saya ketika menyanyikan lagu karangan Wage Rudolf Supratman itu. Sekali-kali, cobalah Anda mencobanya? Tapi, beri tahu dulu orang rumah, rekan satu kost, atau pasangan Anda. Alih-alih ingin membangkitkan energi positif, namun justru dianggap "negatif" :p