Tampaknya saya adalah orang yang selalu telat dengan tren. Setelah blog, kali ini saya sedang keranjingan tamagotchi, sebuah gim permainan pemeliharaan virtual hewan kesayangan. Telat satu dekade.
Kebetulan dua minggu lalu saya baru mendownload gim sejenis tamagotchi (entah nama judulnya apa) ke communicator saya. Entah karena saya memang tak pernah memegang gim seperti itu sebelumnya, maka saya bermain layaknya gim di PS atau computer. Saya kira, hewan di gim itu baru aktif kalo permainannya saya hidupkan.
Eh... ternyata salah besar. Gim itu ternyata memakai real time. Jadi, waktu di gim, sama dengan waktu di HP saya. Alhasil, sudah beberapa kali hewan peliharaan saya itu mati lantaran hingga beberapa hari tak dicek.
Nah, 2-3 hari terakhir, saya jadi rajin mengontrol hewan saya itu. Meski mungkin kata orang kampungan, tapi saya mencoba menikmati permainan yang seharusnya untuk anak SD itu...
Friday, December 29, 2006
Nasihat...
Atas nasihat seorang teman, saya pun mencoba membuat blog di luar blog yang telah saya buat di friendster. Maka lahirlah blog ini. Namun, hingga sekarang, saya masih bingung, bagaimana cara mempublish kepada orang-orang, terutama teman dan rekan, bahwa saya sudah punya blog ini? Memberi tahu URL nya mungkin cara termudah, tapi bukan itu solusinya. Sebab, sebagian besar teman dan rekan saya itu, bukanlah pribadi yang doyan membuka blog, apalagi kalau teman cowok. Jelas malas lah membuka blog saya ini...
Umpatan...
Hal yang sangat jarang keluar dari mulutku adalah umpatan. Namun, entah kenapa hari ini kata-kata tak enak didengar sering dilafalkan lidahku. Ada beberapa hal yang membuat hal itu terjadi. Pertama, jelas koneksi internet yang bermasalah. Namun setelah mendengar causa prima dari hal itu, lidahku pun langsung kelu. Sebab, penyebab semua itu adalah gempa yang mengguncangkan Taiwan. Kebetulan. koneksi internet dari negeri ini berpusat ke negara itu. Adalah tidak etis apabila saya membiarkan mulut ini mengumpat sementara warga di negara yang dulu bernama Formosa itu larut dalam kepahitan. Empatilah yang seharusnya kuberikan.
Kedua, deadline yang tak kunjung kelar. Mengingat saya bekerja dengan menempatkan internet sebagai panduan utama, sungguh pusing apabila dikejar situasi deadline. Untung saja, kami bisa mengambil putusan penting dengan memanfaatkan bahan yang tersedia untuk diolah menjadi sebuah artikel untuk memanjakan pembaca.
Ketiga, hubungan interpersonal yang buruk. Adalah wajar apabila dengan situasi dan tuntutan kerja seperti yang saya alami, kemampuan otak kanan lebih dioptimalkan. Dan, kemampuan mengapresiasi itu sangat terkait erat dengan suasana hati ini. Jika bagus, insya Allah bagus jualah outputnya. Vice versa.
Hari ini, situasi hatiku sedikit tak nyaman. Koneksi internet hanyalah penyebab kecil. Causa majornya adalah banyak masalah yang perlu segera kupecahkan di luar pekerjaan kantor. Namun ketika masalah hendak diurai, sikapku kadang menjadi lebih sensitif. Hal kecil yang tak sesuai keinginanku, bisa langsung membuatku tak enak hati. Egois memang. Tapi begitulah kenyataannya.
Mungkin ada benarnya jika banyak orang menilai saya mewarisi hati ibuku. Hati yang sangatg sensitif. pemurah, namun juga dinaungi kesabaran yang berlebihan. Saya tak bisa menyalahkan ibu yang telah membesarkanku. Yang jelas, saya sendirilah yang harus menemukan solusinya. Sesuatu yang belum saya temukan hingga saat ini.
Selidik punya selidik, akhirnya saya menemukan alasan penting mengapa bad temper hari ini. "Kampret, flash disk gue ketinggalan waktu nyetak foto..."
(27/12/06)
Kedua, deadline yang tak kunjung kelar. Mengingat saya bekerja dengan menempatkan internet sebagai panduan utama, sungguh pusing apabila dikejar situasi deadline. Untung saja, kami bisa mengambil putusan penting dengan memanfaatkan bahan yang tersedia untuk diolah menjadi sebuah artikel untuk memanjakan pembaca.
Ketiga, hubungan interpersonal yang buruk. Adalah wajar apabila dengan situasi dan tuntutan kerja seperti yang saya alami, kemampuan otak kanan lebih dioptimalkan. Dan, kemampuan mengapresiasi itu sangat terkait erat dengan suasana hati ini. Jika bagus, insya Allah bagus jualah outputnya. Vice versa.
Hari ini, situasi hatiku sedikit tak nyaman. Koneksi internet hanyalah penyebab kecil. Causa majornya adalah banyak masalah yang perlu segera kupecahkan di luar pekerjaan kantor. Namun ketika masalah hendak diurai, sikapku kadang menjadi lebih sensitif. Hal kecil yang tak sesuai keinginanku, bisa langsung membuatku tak enak hati. Egois memang. Tapi begitulah kenyataannya.
Mungkin ada benarnya jika banyak orang menilai saya mewarisi hati ibuku. Hati yang sangatg sensitif. pemurah, namun juga dinaungi kesabaran yang berlebihan. Saya tak bisa menyalahkan ibu yang telah membesarkanku. Yang jelas, saya sendirilah yang harus menemukan solusinya. Sesuatu yang belum saya temukan hingga saat ini.
Selidik punya selidik, akhirnya saya menemukan alasan penting mengapa bad temper hari ini. "Kampret, flash disk gue ketinggalan waktu nyetak foto..."
(27/12/06)
Keinginan
Bagi pasangannya, seorang pria (atau diberi peran sebagai "pria" jika menjalin hubungan sesama jenis) harus "lebih" dalam segala hal. Termasuk dalam memberikan perhatian. Namun, ada kalanya pria dihinggapi sensitivitas tinggi sehingga menuntut perhatian lebih lagi dari pasangannya.
Salahkah jika pria - yang biasanya selalu bersikap mengayomi dan menaruh perhatian besar kepada pasangannya - meminta hal yang biasa dia lakukan itu?
Ada kalanya itu terjadi. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap perempuan sebagai pasangannya ketika sang pria bersikap "tak sebenarnya" itu?Bisa banyak kemungkinan. Ada yang tidak terima, terdiam dulu sebelum akhirnya menerima, atau langsung menerima dan menganggap itu hal lumrah dalam kehidupan berpasangan.
Lalu, sikap apa yang kau pilih?
Salahkah jika pria - yang biasanya selalu bersikap mengayomi dan menaruh perhatian besar kepada pasangannya - meminta hal yang biasa dia lakukan itu?
Ada kalanya itu terjadi. Lalu, bagaimanakah seharusnya sikap perempuan sebagai pasangannya ketika sang pria bersikap "tak sebenarnya" itu?Bisa banyak kemungkinan. Ada yang tidak terima, terdiam dulu sebelum akhirnya menerima, atau langsung menerima dan menganggap itu hal lumrah dalam kehidupan berpasangan.
Lalu, sikap apa yang kau pilih?
Sejenak istirahat...
Kadang saya suka bingung melihat orang lain yang rajin posting ke blog. Beberapa malah sangat rajin dengan mengirimkan beberapa tulisan dalam satu hari. Namun, kok saya tidak bisa seperti mereka itu ya? Hmmm... Saya sendiri sulit menjawab pertanyaan itu. Sebab, sudah dua minggu lebih saya tidak posting ke blog tercinta ini. Kemalasan bisa jadi penyebabnya. Toh, saya sangat malas mengumbar pengalaman yang saya sendiri menilai sangatlah ordinary, hal yang mungkin sama dan sering terjadi pada orang kebanyakan. Jika ada opsi, saya lebih memilih jarang menulis namun ketika menulis benar-benar berbobot dibandingkan menuliskan sebatas pengalaman remeh pribadi. Tapi, pertanyaan selanjutnya muncul. Benarkah kelangkaan saya posting di blog menjamin kualitas tulisan yang dimasukkan. Inilah yang saya sendiri tak bisa menjawabnya. Sebab, baik atau buruknya tulisan, itu hanya bisa dinilai oleh orang lain. Bukan oleh penulis sendiri. Melihat dua fakta itu, saya kembali bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya bisa menjadi penulis? Mungkin untuk saat ini, saya baru dalam tahap menyadur dan merangkum artikel ciptaan orang lain untuk kemudian ditulis dengan nama saya sebagai penulisnya. Dengan kata lain, tak mengubah isi tulisan hanya mengubah dengan melihat dari sudut pandang saya. Namun, tekad untuk meluluskan keinginan itu tetaplah menggebu. Dan, mungkin itu akan dimulai dengan cara menulis di blog ini.
(26/12/06)
(26/12/06)
Aa Gym, YZ, ME, dan PNS Klaten
Fiuh...Dipikir-pikir, capek juga ya jadi bangsa Indonesia. Bayangin aja, dalam sepekan, terjadi tiga berita yang membuat heboh publik. Mulai dari pernikahan kedua Aa Gym, video mesra antara YZ, seorang anggota DPR, dan pedangdut ME, serta video mesum dua orang PNS paruh baya di Klaten...
Entahlah... Kenapa justru berita-berita seperti itu yang cepat beredar dan menjadi pergunjingan orang banyak. Padahal, masih banyak persoalan-persoalan lain yang dihadapi bangsa ini. Yang lebih urgent bin penting untuk dihadapi dan dicarikan solusinya.
Apakah fenomena itu menunjukkan sesungguhnya fondasi mental bangsa ini? Yang lebih suka terhadap hal-hal yang berbau membuka aib saudaranya dibandingkan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi? Atau, fenomena itu menunjukkan bahwa "tangan" cukong di dunia perpolitikan negeri ini kembali bermain? Yang dengan mudahnya menggeser perhatian publik agar fokus mereka tak lagi memerhatikan kiprah elite politik negeri ini yang penuh dengan tambal sulam?
Cape mikirnya... Termasuk juga saya dalam menulis blog ini. Emang ga cape apa nulis di waktu menjelang shubuh dengan mata yang belum sekali pun terkatup sejak bangun pagi?
(06/12/06)
Entahlah... Kenapa justru berita-berita seperti itu yang cepat beredar dan menjadi pergunjingan orang banyak. Padahal, masih banyak persoalan-persoalan lain yang dihadapi bangsa ini. Yang lebih urgent bin penting untuk dihadapi dan dicarikan solusinya.
Apakah fenomena itu menunjukkan sesungguhnya fondasi mental bangsa ini? Yang lebih suka terhadap hal-hal yang berbau membuka aib saudaranya dibandingkan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi? Atau, fenomena itu menunjukkan bahwa "tangan" cukong di dunia perpolitikan negeri ini kembali bermain? Yang dengan mudahnya menggeser perhatian publik agar fokus mereka tak lagi memerhatikan kiprah elite politik negeri ini yang penuh dengan tambal sulam?
Cape mikirnya... Termasuk juga saya dalam menulis blog ini. Emang ga cape apa nulis di waktu menjelang shubuh dengan mata yang belum sekali pun terkatup sejak bangun pagi?
(06/12/06)
Video PNS Klaten...
Setelah anggota DPR, rekaman video yang marak di pasaran adalah perilaku mesum yang dilakukan dua orang PNS (yang katanya berasal) dari Klaten di (tampaknya) sebuah rumah makan. Jujur, secara naluri jurnalistik, saya tertarik melihat apa yang dilakukan kedua PNS itu. Namun, setelah melihat prolog dari video itu, langsung membuat saya tak tertarik. Apa pasal? Rekaman itu dilakukan oleh orang yang secara (tidak) sengaja memergoki mereka kencan di tempat umum. Mengapa hal itu membuat saya tak tertarik? Sebab, kedua PNS itu hanya menjadi korban dari orang iseng yang melihat. Terlepas dari perbuatan mesum yang dilakukan PNS itu, tingkah perekam adegan mesum itu sepatutnya yang dikenai hukuman atas tindak pidana. Saya memang bukan seorang sarjana hukum, tapi setidaknya sang perekam itu harus dikenai atas tindakan menyebarkan pornografi. Jika terkait dengan orang lain yang tidak berkenan, mungkin dia pantas dihukum lebih tinggi. Bukannya saya mendukung tingkah PNS itu. Yang mereka lakukan tetaplah salah. Namun, bagaimanapun, "hubungan" yang dilakukan dua PNS itu adalah hak azasi manusia - meski memang tidak pula dilakukan di tempat umum.
(05/12/06)
(05/12/06)
Subscribe to:
Posts (Atom)