Tuesday, November 3, 2020

Wednesday, June 16, 2010

Piala Dunia dan Cewek Jalan Beriringan

Gong Piala Dunia dimulai. Pesta olahraga terakbar di dunia itu telah menyebarkan virusnya per 11 Juni 2010. Beragam tempat di belahan dunia ini menjadi epidemi selama satu bulan lantaran penyebaran virus tersebut.

Miliaran orang, utamanya cowok, langsung terjangkit demam Piala Dunia. Hati-hati buat Kaum Hawa. Virus yang menjangkit para pria itu bisa saja membuat beberapa perempuan menjadi kebutuhan sekunder bagi pasangannya.

Survey memang mengatakan demikian. Berdasarkan hasil penelitian sebuah lembaga perceraian online di Inggris, tingkat perceraian suami-istri meningkat signifikan selama penyelenggaraan dan beberapa hari usai Piala Dunia.

Dalam keadaan normal tanpa adanya Piala Dunia, sekitar 10 persen pasangan terpaksa pisah karena urusan sepak bola. Nah, sebanyak 11 persen dari surveyee juga percaya jika Piala Dunia bakal mengguncangkan hubungan dengan pasangannya.

Sebuah survey dilakukan di sebuah situs fans Arsenal. Hasilnya cukup membuat teling para perempuan panas. Sebagian besar para lelaki itu mengatakan jika Piala Dunia lebih penting daripada pacaran bahkan pernikahan sekalipun.

“Hasil survey itu tak terlalu mengejutkan. Sebagai seorang fans, saya pernah pulang dengan gembira karena tim kesayangan menang. Tapi begitu sampai rumah, sebuah sepatu dilayangkan istri kepada saya,” kelakar Mark Keenan, salah satu penggagas survey tersebut, kepada in2town.

Hasil yang lebih mencengangkan terjadi di Inggris. Dari survey yang dilakukan produk milkshake Frijj, para pria banyak memiliki nazar yang aneh-aneh jika Steven Gerrard cs mampu menjadi juara Piala Dunia.

Sebanyak 12 persen pria rela tak berhubungan seks selama satu tahun jika Inggris juara Piala Dunia. Sedangkan 10 persen lainnya berani memutuskan pacarnya demi menyaksikan kejayaan Inggris. Gilanya lagi, 51 persen pria yang disurvey itu mau menolak tawaran kencan semalam dengan Cheryl Tweedy, mantan istri Ashley Cole! (Oh men... she’s so cute gitu loh?!)

Hal yang sama juga terjadi di Jerman. Dari survey yang dilakukan Reader’s Digest, para fans Der Panzer lebih memilih menyaksikan final Piala Dunia jika Jerman ke final dibandingkan bercumbu dengan pasangannya. Dan,, hanya 5 persen dari surveyee yang mau nonton laga tersebut bersama pasangannya.

Itu di negara yang tim nasionalnya lolos ke perhelatan Piala Dunia. Bagaimana di negara yang hanya bisa sebagai penonton selama penyelenggaraan event tersebut? Idem ditto.

Dari Israel, jaksa Abraham Azrielant yang spesialis mengurusi perceraian menemukan fakta bahwa Piala Dunia mempunyai dampak negatif terhadap stabilitas pernikahan. Terutama jika sang kepala keluarga adalah fans fanatik sepak bola.

Dari survey yang dilakukan usai penyelenggaraan Germany 2006, pengajuan surat perceraian yang mampir ke pengadilan meningkat 55 persen. Sebagian besar sang istri yang mengajukan surat permohonan cerai.

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada satu pun lembaga survey yang melakukannya. Tapi, mungkin saja ada dampak negatif Piala Dunia dalam sebuah hubungan, meski tak berujung pada perceraian.

Idealnya, Piala Dunia dan cewek bisa berjalan beriringan. Jangan sampai Piala Dunia mengganggu hubungan kasih yang telah dijalin. Tapi sebagai fans sepak bola, tentu tak mau terjadi pengekangan dari pasangan yang membatasi niat menonton Piala Dunia, coz cuma 4 tahun sekali!

Cara yang cukup bener adalah dengan mengajak pasangan nonton bersama. Misal, jika Kamu apel dan biasanya nonton bioskop, kini beralihlah ke siaran langsung sepak bola. Lumayan, Kamu bisa cukup lama berada di rumah pacar. Dari pertandingan yang kick-off jam 18.30 WIB hingga laga kedua yang selesai pada pukul 23.00 WIB (kalau tak malu bisa saja lanjut untuk nonton laga yang dimulai 01.30 WIB).

Dengan begitu, dua niatan utama terlaksana. Menonton Piala Dunia jalan, wakuncar alias waktu kunjung pacar pun tak berkurang. Malah bisa lebih lama dan murah meriah. Calon mertua pun tak waswas karena toh nontonnya di rumah dia.

Bagaimana dengan yang sudah mempunyai istri? Intensitas hubungan intim ’kan bisa terganggu? Tak perlu khawatir, bawalah TV ke dalam kamar tidur dan ajak pasangan menyaksikan pertandingan. Dan, rayakanlah ”gol” secara bersama-sama. Hehehe...

Selamat menyaksikan Piala Dunia...

Monday, November 2, 2009

Saya itu kufur

Hampir setiap malam, saya menghabiskan waktu di depan komputer
Mulai dari mengerjakan pekerjaan rutin atau sekadar berselancar di situs jejaring pertemanan

Sering, saya menghabiskan malam untuk memenuhi hobi membaca
Mulai dari novel, kumpulan cerpen, majalah, hingga biografi orang terkenal

Tak jarang, sepertiga malam yang terakhir saya habiskan untuk memenuhi hobi saya yang lain
Menikmati pertandingan sepak bola, mulai dari sekadar menonton hingga bermain di game

Entah sudah berapa lama saya memberikan waktu untuk segala urusan duniawi itu
Entah sudah berapa puluh hari jika diakumulasi saya tak pernah mengalokasikan waktu untuk mengingat Sang Pencipta di malam hari
Sudah banyak kesempatan yang saya sia-siakan

Padahal disebutkan, sepertiga malam terakhir adalah kesempatan terbaik untuk manusia bermunajat kepada Sang Mahamengetahui
Tapi, saya tak pernah sedetik pun memanfaatkan peluang emas itu
Saya terlalu terbuai oleh segala urusan duniawi hingga sama sekali tak terbetik di hati untuk mengingat-Nya

Saya telah kufur...
Kufur akan nikmat-Mu yang demikian mewah
Kufur terhadap kesempatan yang telah Engkau berikan

Fabi-ayyi ala irabbikuma tukaziban
Then which of the blessings of Your Lord will you both deny?

Ahh...
Saya sampai malu untuk mengatakan hal ini,
Semoga Allah SWT selalu memberikan ampunan atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah saya perbuat. Amin...

Tuesday, October 20, 2009

Liverpudlian dan Reina Tak Salah

ADA kejadian menarik dari lanjutan Premier League pekan ke-9, Sabtu (19/10). Kejadian itu terjadi di Stadium of Lights, kandang Sunderland.

Ketika pertandingan baru kurang dari 5 menit, seorang bocah Liverpudlian melempar sebuah balon atau bisa dibilang bola pantai berlogo Liverpool. Tak salah apa yang dilakukan bocah itu.

Sebagai seorang fans, sah-sah saja melakukan tindakan untuk mendukung tim kesayangannya. Termasuk juga bocah itu.

Lemparan bola pantai dilakukannya tentu dengan alasan sekadar memberikan bantuan moril bagi The Reds yang tengah tercecer dari persaingan juara. Bola pantai berwarna merah itu dianggap refleksi doa dari harapan Liverpudlian cilik itu dan juga jutaan fans Liverpool lainnya.

Sayangnya, tak selamanya ekspektasi bisa dipenuhi. Bola pantai merah yang idealnya menjadi pemicu semangat justru malah menjadi penyebab kekalahan Liverpool di kandang The Black Cats.

Tendangan Darren Bent, secara teknis, seharusnya bisa ditepis Pepe Reina. Namun, bola sepakan itu terlebih dulu membentur bola pantai yang ada di sekitar Daerah 6 Meter, kotak penalti Liverpool.

Alhasil, tendangan Bent berubah arah setelah menyentuh bola pantai itu. Uniknya, Reina justru bergerak ke arah bola pantai, bukannya mengantisipasi bola sepakan striker Sunderland itu.

Dari kacamata ilmu pengetahuan, tindakan yang dilakukan Reina tidaklah salah. Bagaimanapun, mata akan lebih mudah menangkap objek/benda yang berwarna lebih terang. Karena itulah, wajar apabila kiper Liverpool itu melakukan refleks yang mengarah ke kanan, arah bola pantai bergulir.

Gol Bent itu menjadi satu-satunya pembeda dari hasil kedua tim. Jelas, kekalahan menyesakkan harus diderita Liverpool. Namun, manajer Rafael Benitez (sudah) bisa berbesar hati menyikapi kekakalahan timnya itu.

"Hal seperti itu bisa terjadi ke tim mana pun. Andai kami tampil lebih baik, seharusnya kebobolan dengan cara seperti itu tidaklah masalah," ujar Benitez.

Liverpudlian cilik yang melempar bola tidaklah pantas dieprsalahkan. Justru pengadil di lapangan yang seharusnya jeli membaca situasi.

Pada Law of the Game FIFA Ayat 2, sudah disebutkan dengan jelas. "Bila ada sebuah bola tambahan selagi laga berjalan masuk lapangan dan mengganggu jalannya laga, wasit harus menghentikan pertandingan dan mengeluarkannya bola itu sedini mungkin."

Berkaca dari aturan itu, wasit Mike Jones yang menjadi pengadil saat itu seharusnya langsung tanggap begitu ada bola lain yang masuk lapangan. Namun, dia malah berkeyakinan untuk meneruskan laga dan akhirnya terciptalah gol tersebut.

Kesalahan fatal itu lantas berakibat fatal bagi Jones, tak cuma Liverpool. "Pangkat" dia harus turun. Tak lagi menangani pertandingan Premier League, namun hanya dipercaya untuk laga Divisi Championship - kasta kedua Liga Inggris.

Saturday, July 18, 2009

Mimpi Menapaktilasi Messi

Tak banyak pemain sepak bola yang memiliki kesempatan tampil di sebuah laga puncak. Terlebih itu adalah laga pamungkas dari kompetisi sepak bola tertinggi di Benua Kuning, Piala Asia. Tapi, kesempatan emas itu datang menghampiriku.

”Kamu saya cantumkan dalam daftar pemain cadangan untuk pertandingan final besok,” tegas pelatihku, pada makan malam bersama seluruh pemain dengan Wakil Presiden RI, sehari sebelum pertandingan.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan pelatih, ada aliran darah yang deras mengalir ke seluruh tubuhku. Jantungku tampaknya bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan hati ini sehingga dengan semangat tinggi memompa seluruh darah dari bilik jantung ke seluruh tubuh.

Bagaimanapun, bisa berada dalam daftar pemain untuk final Piala Asia merupakan sebuah kebanggaan besar untuk seorang pemain muda – termuda malah bila dibandingkan seluruh penggawa timnas – sepertiku. Meski itu hanya berstatus sebagai pemain cadangan.

Aku pun lantas mencoba menenangkan diri. Euforia ini tak boleh membuatku sulit tidur. Tidur yang cukup merupakan langkah awal untuk tampil baik pada sebuah pertandingan. Aku pun bersiap-siap menuju peraduan.

Sebelum tidur, tak lupa aku mempersiapkan segala perlengkapan untuk esok hari. Kubuka lemari pakaian. Terdapat satu buah kotak yang dibungkus dengan kertas kado. Kurobek kertas kado itu dan kutemukan sebuah surat.

Kubuka lalu kubaca, ”Sayang, selamat bertanding. Maaf Dinda enggak bisa ikut nemenin Kanda. Dinda cuma bisa bantu doa. Oiya, ini ada kado dari Dinda untuk kamu. Nanti pake yah pas tanding dan bikin gol. Good luck, Sayang. Love, Dinda.”


Kotak itu pun lalu kubuka. Kutemukan adidas F50i Spark berwarna biru cerah. Sepatu yang memang telah lama aku impi-impikan. Aku tersenyum lalu beranjak ke tempat tidur dan menempatkan sepatu itu di sebelah bantal.

Sebelum memejamkan mata, aku memanjatkan doa, ”Ya Allah, semoga aku bisa tampil baik dengan sepatu pemberian kekasihku ini, seperti yang dilakukan pemain idolaku, Lionel Messi, di final Liga Champions 2008-09. Amin.” Lalu aku pun tertidur.

Momen yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Pertandingan final Copa Indonesia pun dimulai. Duduk di bangku cadangan bukan berarti tak bisa berkontribusi. Aku bersama beberapa pemain lain di bangku cadangan tak henti berteriak menyemangati dari pinggir lapangan.

Sempat unggul lebih dulu pada babak pertama, Tim Merah-Pitih yang aku bela malah jadi tertinggal 1-2 dari Korea Selatan yang memang dikenal sebagai tim diesel. Pelbagai usaha telah dilakukan rekan-rekanku di lapangan, namun tetap gagal menyamakan kedudukan karena lawan yang bermain all-out defense. Memasukkan dua striker untuk mempertajam lini depan tak juga menunjukkan hasil. Padahal, waktu normal tinggal 5 menit lagi.

Tiba-tiba terdengar teriakan lantang pelatih. ”Kamu, masuk! Serahkan ini ke meja ofisial pertandingan,” ujar pelatihku. Aku pun berlari sambil merapikan baju. Penasaran aku ingin melihat nama pemain yang akan aku gantikan. Aku kaget. Bagaimana mungkin midfielder muda sepertiku menggantikan pemain paling karismatis negeri ini, Ponaryo Astaman.

Belum hilang kekagetanku, kertas itu pun kuserahkan kepada wasit keempat. Dia lantas mengatur angka pada papan digital. Terlihat angka 17 berwarna hijau di bawah tulisan ”In” dan angka 11 berwarna merah di bawah tulisan ”Out”.

Pengeras suara di stadion pun berbunyi. ”Substitution for Indonesia. Player number eleven, Ponaryo Astaman, replaces by player number seventeen, Gentza Manah.” Standing ovation lantas dilakukan penonton. Sempat ge-er, namun lantas aku tersadar jika hal itu dilakukan bukan untukku melainkan kepada Ponaryo. ”Kalahkan mereka,” bisik Ponaryo kepadaku.

Setelah mengucapkan doa, aku pun mantap memasuki lapangan pertandingan yang disaksikan puluhan ribu penonton yang memadati Gelora Bung Karno. Sayup-sayup terdengar teriakan penonton, ”Ayo, Kamu bisa, Anak Muda!”.

Situasi saat aku masuk adalah tendangan pojok bagi Korsel. Aku lantas menempatkan diri di sisi luar kotak penalti guna mengantisipasi pergerakan lawan jika ada bola muntah. Tendangan pojok sudah dilepaskan. Beruntung kiper Markus Harison bisa meninju bola keluar. Bola pun melayang dan jatuh tepat di dekat kakiku.

Satu-satunya yang ada di pikiranku saat itu adalah berlari membawa bola sekencang mungkin ke daerah lawan. Sejurus kemudian aku pun berlari menggiring bola. Teknologi transparent heel counter pada adidas F50i Spark baruku ini membuatku langkahku menjadi ringan. Dua orang pemain Korsel yang coba menghadangku berhasil kulewati.

Tanpa terasa, aku sudah berada sekitar 30 meter dari gawang lawan. Ada dua hal yang berada di pikiranku saat itu. Mencoba menusuk langsung ke kotak penalti lawan atau memberikan umpan ke samping mengingat aku di double team oleh dua pemain Korsel.

Tiba-tiba aku melihat ada sosok Bambang Pamungkas yang menunjukkan tangan di jantung pertahanan Korea. Tanpa pikir panjang, aku lantas melepaskan umpan silang dan langsung disambut sundulan kepala Bambang. Blasss... Bola pun merobek jala gawang Korsel. ”Gooolllll...” Teriak ribuan orang di Gelora Bung Karno.

Aku pun berlari menuju ke arah Bambang untuk merayakan euforia itu. Pemain lain pun melakukan hal serupa.”Nice pass,”ujar Bambang kepadaku.

Skor pun menjadi imbang 2-2. Hasil yang bertahan hingga waktu normal habis. Perpanjangan waktu pun dilakukan. Namun, setelah 2 X 15 menit, tak ada tambahan gol yang tercipta. Penentuan pemenang pun terpaksa dilakukan melalui adu penalti.

Pelatih lantas memanggil semua pemain. Nama-nama penendang sudah dia tulis di secarik kertas. ”Gentza, kamu penendang kelima!” seru dia. ”Siap!” balasku meski dalam hati deg-degan karena penendang kelima adalah penendang penentu. Beban yang ditanggung jelas yang paling berat. Kucoba menenangkan diri dengan berdoa guna mendapatkan kemantapan hati.

Sempat dibuat tegang karena penendang pertama Indonesia gagal, akhirnya kami bisa lega setelah tembakan penendang ketiga Korsel melambung di atas mistar gawang Markus. Kedudukan 3-3 pada adu penalti.

Penendang kelima Korsel pun maju menghadapi penalti. Tembakan sudah dilepaskan, namun dengan sigap Markus menepisnya. Aksi yang lantas menimbulkan suara tepuk tangan nan keras dari para penonton.

Giliranku pun tiba. ”Kamu pasti bisa,” bilang beberapa pemain kepadaku. Aku mantap melangkah menuju titik putih. Usaha kiper Korsel yang coba melakukan psy war dengan mengotak-atik bola di titik putih tak aku gubris. Hanya saja ucapan dia yang mengatakan aku akan bernasib seperti John Terry – yang terpeleset saat adu penalti pada final Liga Champions 2007-08, sempat menggoyahkan hatiku.

Aku pun berbalik badan untuk mengambil jarak menendang. Sambil berjalan, aku berdoa, ”Semoga aku bisa memenuhi janjiku kepada pacarku.” Aku pun mendapatkan lagi keyakinanku. Terlebih aku mengetahui stud key hitam yang aku pasang di F50i-ku ini mempunyai cengekeraman yang kuat terhadap tanah.

Sorot mata tajam aku arahkan ke gawang. Ancang-ancang telah dilakukan. Seperti idolaku yang lain, Marco van Basten, aku melompat kecil lalu berlari. Tembakan kaki kanan aku lepaskan. Lantaran teknologi sprintskin, aku bisa merasakan sentuhan bola di kakiku. Hal yang memudahkan aku mengarahkan tendangan ke pojok kanan atas gawang Korsel dan tak mampu dibendung kiper lawan.


”Yeah...!” Aku pun lantas berlari ke arah penonton. Aku lantas melakukan selebrasi bak Messi di final Liga Champions 2008-09. Melepas sepatu F50i-ku lalu menciumnya. Aku lantas menaiki pagar pembatas penonton. Namun lantaran hanya berpijak kepada kaos kaki kananku yang basah, aku pun tergelincir dan jatuh dari pagar pembatas.

Gubrak!!! Aku pun tersadar dan melihat langit-langit kamar kostku. Kulirik ke kanan dan kumelihat ada poster Messi sedang mencium sepatu kanannya usai membobol gawang Edwin van der Sar di Stadion Olimpico. Ahh... ternyata ini semua hanyalah mimpi.

Kulihat jam di dinding. Waks… sudah pukul 3 sore. “Bisa terlambat latihan sepak bola di kampus nih...”. Begitu pikirku. Aku pun lantas menyambar handuk yang menggantung dan menuju pintu untuk keluar ke kamar mandi.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh kehadiranku pacarku yang sudah ada di depan pintu. ”Selamat ulang tahun sayang,” ucap dia sambil melayangkan kecupan ke pipiku. ”Ini ada kado untuk kamu. Buka deh. Kamu pasti suka. Apalagi kan kamu mau latihan sekarang,” ujar dia lagi.

Kotak berbungkus kertas kado merah itu pun kubuka. Aku pun kaget setengah mati. Sepasang sepatu adidas F50i Spark berwarna biru. Persis seperti yang dipakai Lionel Messi dan juga mimpiku...


(FOTO-FOTO: DOK. TABLOID SOCCER)

Monday, February 16, 2009

Borok Itu Masih Ada

KETIKA Calciopoli terungkap, pencinta sepak bola Italia langsung terbagi menjadi dua kubu. Kubu yang pesimistis beranggapan sepak bola Italia telah habis karena indeks kepercayaan publik dipastikan menurun. Sementara kubu yang optimistis yakin, calcio dapat bangkit untuk kembali menahbiskan diri menjadi liga terbaik dunia.

Hukuman terhadap beberapa klub yang terlibat Calciopoli, dianggap menjadi langkah awal untuk mengembalikan citra sepak bola Italia yang menukik. Instrumen hukum Italia pun sudah menunjukkan itikad baiknya dengan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu. Buktinya, Juventus sebagai kolektror perisai juara tersering dan AC Milan yang dimiliki tokoh pemerintahan Italia mendapatkan sanksi yang sangat tegas.

Keberhasilan Inter Milan menjuarai Serie-A setelah dua rival utamanya dikenai hukuman seolah membuktikan bahwa tak ada lagi main mata di sepak bola Italia. Semua klub mendapatkan perlakuan yang sama dari wasit. Hingga akhirnya musim 2008-09 bergulir.

Inter seolah mendapatkan "durian runtuh" status "untouchable" yang sebelumnya melekat pada Juventus. Buktinya, beberapa pelatih dan petinggi klub medioker sempat menghujat kepemimpinan wasit kala timnya bertanding melawan Inter. Mereka beranggapan korps baju hitam masih belum bisa bersifat objektif. Masih cenderung berpihak pada klub besar, terutama Inter.

Terakhir, ketidakadilan itu dirasakan Milan, klub yang sebelumnya terkena sanksi Calciopoli. I Rossoneri merasa wasit Roberto Rosetti berbuat curang kala I Nerazzuri menang 2-1 atas rival sekotanya itu, Minggu (15/2). Ironis, mengingat Rosetti baru saja mendapatkan penghargaan sebagai wasit terbaik Italia.

Carlo Ancelotti sampai merutuk keras lantaran kesal terhadap kepemimpinan Rosetti. Pelatih Milan merasa timnya pantas mendapatkan dua penalti. Selain itu, gol pembuka yang dicetak Adriano juga dianggap pelanggaran lantaran bola terlebih dulu mengenai tangannya. Pippo Inzaghi pun sempat berteriak marah lantaran gol indahnya menyambut umpan Alexandre Pato tak disahkan lantaran hakim garis menganggapnya offside.

Tanpa bermaksud menutup mata dengan perbandingan kekuatan klub-klub Italia, rasa bersalah lantaran "berbuat salah" di masa lalu terhadap Inter bisa saja menjadi penyebab ketidakenakan yang dialami para lawan Inter dalam dua musim terakhir ini. Meski, tak bisa dipungkiri, secara kualitas dan mentalitas permainan dibandingkan rival-rivalnya, I Nerazzurri memang menjadi tim Italia yang paling pantas merebut perisai juara dalam 3 tahun terakhir ini.

Terlepas dari polemik yang selalu muncul setiap usai sebuah laga besar, kepemimpinan wasit di Italia pasca-Calciopoli memang tetap menghadirkan tanya. Meski secara nyata menunjukkan perbaikan, tetap saja kesan subjektivitas mengemuka. Sebuah tantangan yang harus bisa segera dientaskan oleh lembaga-lembaga terkait jika ingin Lega Calcio kembali dipandang sebagai liga bergengsi lagi. (jalu/Foto: Dok. Soccer)

Dibuai Mimpi ke Pentas Dunia

BERITA mengejutkan keluar di media-media massa akhir Januari lalu. Bukan hanya media lokal. Pun mancanegara.

Berita mengejutkan itu adalah kabar Indonesia akan mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022. Kebijakan FIFA untuk membuka lebih dini kran pendaftaran Piala Dunia demi persiapan yagn lebih matang memang telah menarik minat banyak negara, salah satunya Indonesia.

"Hal ini sepertinya hanyalah mimpi bagi kami. Tapi, kami harus berani bermimpi muluk. Jika tidak, kami takkan bisa merealisasikan apa-apa," bilang Sekjen PSSI, Nugraha Besoes.

Tak salah dengan pernyataan Kang Nunu itu. Seperti bait lagu Nidji untuk OST Laskar Pelangi, "Mimpi adalah kunci, untuk kita, menaklukkan dunia..." Toh, bukankah segala penemuan dan teknologi mutakhir yang berkembang di dunia ini pada awalnya adalah sebuah mimpi? Sebut saja Wright Bersaudara yang menemukan pesawat terbang.

Namun, seperti juga Wright Bersaudara, butuh kerja keras dan usaha yang tak kenal untuk bisa mengubah angan-angan di dalam otak kita, yang kemudian diterjemahkan ke dalam kerta dan berubah menjadi blueprint, dan terakhir dieksekusi menjadi sebuah tindakan.

Jangka waktu 10 tahun memang masih lama. Masih cukup untuk memperbaiki dan membangun prasarana-prasarana penunjang penyelenggaraan kompetisi sepak bola terakbar di dunia itu.

Namun, satu dekade pun akan berjalan sangat singkat. Itu jika PSSI tak melakukan apa-apa untuk memperbaiki kualitas sepak bola Indonesia. Okelah, secara stadion, Gelora Bung Karno pantas dibanggakan sebagai salah satu stadion terbesar di dunia. Tapi, bagaimana dengan kualitas sepak bola Indonesia sendiri?

Inilah yang harus bisa segera dibenahi oleh PSSI. Dengan status tuan rumah, Indonesia memang bisa mewujudkan mimpinya tampil di pentas dunia - yang sebelumnya digadang-gadang akan tercipta pada 2002. Hanya saja, indikator keberhasilan tuan rumah dalam penyelenggaraan turnamen tak hanya dilihat dari sisi fisik penyelenggaraan semata. Tapi juga penampilan tim nasionalnya.

Tengok saja tiga negara minor yang sempat menjadi tuan rumah Piala Dunia, Jepang-Korea Selatan pada 2002 dan Amerika Serikat pada 1994. Tiga tim itu setidaknya bisa memuaskan fans sepak bolanya dan tak mencoreng arang di kening karena gagal di babak pertama. Bahkan, Korsel bisa menciptakan sejarah dengan menjadi tim Asia pertama yang menembus semifinal Piala Dunia.

Soal prestasi timnas inilah yang harus dicermati oleh PSSI jika Indonesia ingin mewujudkan mimpi tampil di pentas dunia. Sebab, secara antusiasme penonton, bangsa ini berani diadu dengan Inggris, Jepang, Qatar, Rusia, dan Spanyol-Portugal.

Penentuan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 akan ditentukan pada Desember 2010 mendatang. Bangsa ini masih punya waktu bersolek diri untuk membuktikan bahwa Indonesia pantas diberi kepercayaan untuk menjadi tuan rumah sebuah pagelaran akbar.
Untuk itu, PSSI harus bisa segera menyembuhkan borok yang terjadi sepak bola Indonesia. Sementara fans sepak bola Indonesia harus sudah bisa bersikap dewasa dalam menyikapi hasil yang terjadi di lapangan.

Prinsipnya adalah Just Do It. Doa dan Ikhtiar. Sama seperti Wright Bersaudara, hanya dengan usaha sungguh-sungguhlah, mimpi bangsa ini untuk menyaksikan Tim Merah Putih bertanding di puncak tertinggi sepak bola dunia bisa terwujud. Ayo, buktikan Indonesia! (jalu)

Wednesday, January 28, 2009

Benitez Terserang Post Power Syndrome

RASA frustrasi mulai menghinggapi Liverpool. Khususnya manajer Rafael Benitez. Manajer asal Spanyol itu seolah dihinggapi post power syndrome. Sindrom yang biasa menyerang orang yang baru saja lengser dari jabatannya.

Benitez memang tidak kehilangan jabatannya sebagai manajer The Reds. Tapi, posisi Liverpool yang tercelat dari puncak klasemen - yang sebelumnya terjaga sekitar dua bulan, menjadi penyebab Benitez mengalami gejala itu.

Gejala itu diawali saat The Reds hendak menjamu Stoke City pada pekan ke-21. Sadar posisinya klubnya di puncak klasemen terancam oleh Manchester United yang terus menanjak, Benitez melancarkan kritikan yang niat awalnya adalah untuk menggoyahkan konsentrasi pesaingnya itu.

Kritikan pertama diloncarkan kepada Sir Alex Ferguson. Benitez menganggap manajer MU itu mendapatkan "diskriminasi" dari FA lantaran tak pernah dikenai sanksi meski melontarkan kritikan pedas kepada wasit. Dilanjutkan kritikan kepada David Gill, Chief Executive MU, yang dianggap Benitez mempunyai pengaruh di FA lantaran mempunyai posisi penting.

Setelah posisi puncak klasemen terenggut, Benitez kian kencang berkoar. Alih-alih membenahi kesalahan yang terjadi di timnya, Benitez malah mengkritik setiap lawan yang dihadapi.

Terakhir, Everton yang menjadi objek kritikan Benitez. Usai bermain imbang 1-1 di babak keempat Piala FA, dia menganggap The Toffees hanya memeragakan sepak bola negatif demi mendapatkan poin dari timnya.

Andai Jose Mourinho masih berada di Premier League, bukan tak mungkin Benitez yang bakal dikritik. Eks manajer Chelsea itu tentu menganggap Benitez sebagai voyeur, sama seperti halnya manajer Arsenal, Arsene Wenger.

Nasib yang terjadi terhadap Wenger dan Arsenal-nya tentu harus diwaspadai Benitez. Apabila terlalu sering membuka aib orang lain dibandingkan memperbaiki kesalahan sendiri, bukan tak mungkin Liverpool akan bernasib sama seperti The Gunners. Gagal menjadi juara!

Jika itu terjadi, alamat para Liverpudlian akan semakin lama menunggu waktu berbuka puasa gelar juara liga. So, fokuslah mengurus tim sendiri Benitez!

Tuesday, January 20, 2009

Harga Sebuah Kesetiaan

"When we are debating an issue, loyalty means giving me your honest opinion, whether you think I will ll like it or not. Disagreement, at this stage, stimulates me. But once a decision has been made, the debate ends. From that point on, loyalty means executing the decision as if it were your own." (Colin Powell, Mantan Kepala Angkatan Bersenjata dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat)

KESETIAAN itu sangatlah mahal. Bahkan, bisa dibilang tak ternilai. Benarkah demikian? Tidak di juga.

Di zaman yang sudah konsumtif seperti sekarang ini, loyalitas (masih) bisa dibeli dengan uang. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Sheikh Mansour, pemilik Manchester City.

Pada Selasa (13/1), pemilik baru Manchester City itu secara resmi mengajukan penawaran terhadap Kaka, ikon AC Milan. Dana lebih dari 1,6 triliun rupiah siap digelontorkan agar Kaka siap melepaskan kesetiaan kepada Milan dan berpaling ke Manchester City.

Siapa yang tak tergoda dengan uang sebanyak itu. Silvio Berlusconi pun sempat goyah. Ikrar dia untuk tak menjual Kaka sedikit berguncang. Pemilik Milan itu pun mengakui kekuatan uang bisa mengubah sesuatu hal yang tak mungkin menjadi kenyataan.

Hal itu sudah banyak terjadi di dunia nyata. Dulu, hanya astronot dan kosmonot saja yang bisa berangkat ke luar angkasa. Kini, asal punya uang belasan miliar rupiah, orang awam pun bisa.

Demikian pula di dunia sepak bola. Siapa yang sangka Roberto Baggio bisa pindah dari Fiorentina ke Juventus pada 1990 mengingat dua klub itu merupakan rival luar-dalam. Setelah itu, makin banyak ikon klub yang hijrah ke klub lain bahkan rival atas nama gelontoran uang.

Memelihara kesetiaan juga tak ubahnya menjaga kejujuran. Sebab, hati paling dalamlah yang bisa menentukan apakah pantas kesetiaan itu ditukar dengan uang yang berlimpah.

Cobaan itulah yang kini dihadapi Kaka, pria yang dikenal sangat setia menjalankan prinsip hidupnya, termasuk soal batasan berpacaran. Di satu sisi, suami dari Caroline itu bisa secara instan menjadi pemain termahal sekaligus bergaji tertinggi di dunia jika mau pindah dari Milanello. Sebab, City menjamin Kaka akan dibayar 500 ribu pounds per pekannya.

Di sisi lain, kesetiaan dia amat dibutuhkan oleh Milan untuk kembali menjadi klub yang disegani, tak hanya di Italia tapi juga Eropa dan dunia. Dia pun masih memiliki mimpi untuk menjadi kapten Milan pada suatu saat nanti. Mimpi yang hanya bisa dicapai apabila kesetiaan dia tak dijual.

Apa yang akan dipilih oleh Kaka? (jalu)

Mimpi Timnas Berprestasi Tinggi

TIMNAS INDONESIA adalah sebuah penantian. Ya, penantian akan sebuah prestasi manis yang sudah lama tak dipersembahkan para pebola dari lapangan hijau.

Tepiskan gelar Piala Kemerdekaan yang diraih secara "cuma-cuma" dari Bangladesh pada Agustus lalu. Terakhir kalinya Tim Merah Putih memberikan kebanggaan kepada bangsa ini adalah pada 1991. Ketika Edy Harto dkk mempersembahkan medali emas SEA Games.

Setelah itu, tak ada lagi prestasi yang diberikan para pebola kita. Jangankan untuk berbicara di level dunia ataupun Asia, di level regional saja nama besar Indonesia tenggelam di bawah bayang-bayang Thailand dan Singapura.

Sudah 17 tahun berlalu dari terakhir kali lagu Indonesia Raya berkumandang saat penahbisan juara. Layaknya pemuda yang merayakan ultah sweet seventeen, begitu jualah perasaan dan harapan rakyat Indonesia kepada Bambang Pamungkas dkk di lapangan hijau. Dag dig dug serrr...

Dag dig dug karena memang penampilan timnas Indonesia menghadirkan rasa deg-degan. Setelah tampil gemilang pada dua laga awal melawan Myanmar dan Kamboja, Tim Garuda seakan kehilangan cakarnya saat menghadapi Singapura di akhir penyisihan grup.

Kekalahan menyebabkan Indonesia harus menghadapi Thailand di semifinal. Dan, lagi-lagi perasaan deg-degan menempel lekat di hati fans sepak bola Indonesia. Hal itu tak lain disebabkan kekalahan 0-1 dari Thailand di Gelora Bung Karno. Menakar prestasi dan penampilan di penyisihan grup, anak-anak asuhan Peter Reid hampir mustahil dikalahkan di kandangnya sendiri.

Toh, bukan berarti kita harus langsung melempar handuk. Keajaiban kerap terjadi di lapangan hijau. Rakyat Indonesia masih boleh berharap keajaiban Piala Tiger 2004 kembali terulang saat ini.

Ketika itu, Indonesia juga kalah tipis di Gelora Bung Karno dari Malaysia. Namun membalas dengan kemenangan telak 4-1 begitu bermain di Malaysia.

Terlalu muluk? Bisa ya, bisa juga tidak. Bagaimanapun, harapan harus selalu dibangun. Mimpi harus selalu ada. Nah, kini pun kita bermimpi Indonesia bisa kembali meraih prestasi membanggakan dalam "perayaan" sweet seventeen-nya.

Namun, ketika pada akhirnya Indonesia gagal menjadi yang terbaik, jangan hentikan mimpi kita. Teruslah bermimpi untuk melihat kepak Garuda mengangkasa di jagat sepak bola. Bukankah segala hal yang baik itu awalnya juga berupa mimpi? Lagipula tak ada salahnya bermimpi. Gratis dan tidak makan hati ketika tidak terealisasikan. Lha wong cuma mimpi... (jalu)


NB: Artikel ini dibuat ketika timnas hendak meladeni Thailand pada semifinal kedua Piala AFF 2008, Desember lalu.

Tuesday, November 25, 2008

Sanksi Yang Mendidik?

KOMISI DISIPLIN PSSI akhirnya mengambil sikap tegas. Rabu (19/11), komdis merilis vonis PSIR Rembang terkait dengan kerusuhan yang dilakukan oleh para pemainnya. PSIR tidak boleh mengikuti segala kompetisi di bawah naungan PSSI selama dua tahun!

Vonis itu memang terbilang berat. Namun, jika melihat penyebabnya, sanksi itu terbilang wajar. Saat dijamu Persibom Bolaang Mongondow, segerombolan pemain PSIR yang tidak puas langsung menganiaya wasit. Akibatnya, wasit Muzair mengalami luka-luka.


Vonis itu tembuat PSIR otomatis terdegradasi ke Divisi II. Selain itu, beberapa pemain Dampo Awang juga mendapatkan sanksi yang nyaris serupa. Stanley Mamuaya dilarang beraktivitas di lapangan hijau seumur hidup. Sementara tiga pemain lain bernasib sama dengan klubnya, yakni dilarang beraktivitas sepak bola selama dua tahun.

Dilihat dari proses pembelajaran, sanksi itu memang setimpal. Bagaimanapun, tindakan yang dilakukan oleh para pemain PSIR itu sudah kelewatan.

Namun, jika ditilik dari kacamata humaniora, sanksi itu terbilang sangat berat. Secara langsung, vonis itu menghentikan sumber pemasukan utama pemain. Sudah menjadi rahasia umum, rata-rata pebola Indonesia belum dibekali kecakapan lain di luar teknik sepak bola.

Secara tidak langsung, sanksi itu juga bisa mematikan roda perekonomian di Kota Rembang. Bisa dibayangkan, berapa banyak orang yang menatap pertandingan sepak bola dengan mata berbinar lantaran menjadi wadah sumber penghasilan mereka.

Mulai dari penjual kaus sepak bola, tukang mie ayam, tukang gorengan, hingga pedagang asongan yang mendapatkan berkah dari sebuah pertandingan sepak bola. Mereka itulah yang menjadi korban tidak langsung dari vonis larangan bertanding.

Bak buah simalakama. Menjatuhkan vonis yang mendidik memang tak ubahnya mencari jarum di tumpukan jerami. Jadi, daripada pusing mencari, lebih baik jangan menjatuhkan jarum di dekat kandang kuda yang banyak tumpukan jeraminya.

Dengan kata lain, sebaiknya pebola bisa menerima sebuah putusan wasit dengan lapang dada. Andaipun putusan wasit itu salah, sudah ada lembaga yang akan memproses dan mengadilinya jika salah.

Namun, untuk membangun sikap besar hati itu juga harus didukung oleh PSSI selaku induk sepak bola tanah air. Tunjukkanlah komitmen yang lurus dalam memajukan sepak bola tanah air. Tanpa sikap itu, jangan harap kedewasaan sikap akan cepat terbentuk meski sudah ada sanksi yang mahaberat. (jalu)

Wasit (Jangan) Selalu Disalahkan

LANTARAN dikenal sebagai korps baju hitam, wasit sering menjadi kambing hitam hasil akhir suatu pertandingan. Di liga mana pun di kolong langit ini.

Kendati wajah sudah berganti menjadi Indonesia Super League (ISL), lagu lama soal detonator keributan di stadion tetaplah sama. Buruknya kualitas wasit.

Tak perlu dihitung jumlah laga yang berakhir dengan keributan karena buruknya kualitas wasit. Dampaknya bisa langsung terlihat. Mulai dari keributan yang dilakukan oleh suporter hingga pengejaran wasit oleh oknum pengurus klub.


Toh, bukan hanya di Liga Indonesia - yang sama dengan status negara kita sebagai negara dunia ketiga alias negara berkembang, polemik soal wasit pun menyentuh kompetisi yang diklaim terbaik di dunia. Premier League dan Serie-A. Dalam beberapa pekan terakhir, wasit selalu dituding menjadi biang kegagalan sebuah tim.

Di Inggris, manajer Manchester United Sir Alex Ferguson dan manajer Newcastle United mengkritik performa wasit ketika timnya bertanding. Di Italia, pelatih AC Milan Carlo Ancelotti juga merutuk kegagalan timnya meraih poin di Via del Mare, kandang Lecce, akhir pekan lalu disebabkan ketidakjelian wasit.

Berkaca dari kasus Sir Alex dan Kinnear, kritikan yang datang secara bertubi-tubi kepada wasit itu langsung menimbulkan kekhawatiran dari para petinggi Premier League. Para petinggi FA dan Premier League memang berempati dengan kekecewaan yang dialami para manajer. Karena itulah, mereka meminta para manajer itu bersikap dengan lebih dingin ketika merasa timnya dirugikan oleh putusan wasit. Toh, ada institusi khusus yang berwenang untuk menindak korps baju hitam itu.

Bayangkan, ketika kritikan itu hanya diucapkan secara lisan - maksimal gesture dengan menunjuk, FA sudah meminta para manajer itu untuk bersikap lebih sopan.
Bandingkan dengan di Indonesia yang sampai mengejar wasit hingga terbirit-birit.

Ada perbedaan besar dari pelampiasan ketidakpuasan wasit di Liga Indonesia dengan di Premier League atau di Serie-A. Mana yang harus lebih dulu dibenahi? PSSI beserta korps baju hitam? Atau malah mendewasakan sikap insan sepak bola tanah air? Sama sulitnya dengan menjawab mana yang lebih dulu, telur atau ayam. (jalu/Foto: Getty Images)

Friday, May 9, 2008

Tinju pun kalah keras



“Apakah Anda pikir tinju adalah cabang olahraga paling keras? Salah. Sepak bolalah cabang olahraga yang paling keras.”

Jangan terjebak. Tulisan ini bukanlah membahas perkembangan sepak bola di Indonesia. Liga sepak bola yang lebih mirip ajang jual beli pukulan dibandingkan seluruh turnamen tinju di negeri ini. Jumlah turnamen tinju di tanah air mungkin kalah dalam hal jumlah. Kadang hal itu berlangsung tidak fair. Sebab, baku-pukul itu tak terjadi satu lawan satu. Melainkan beberapa orang. Malah, kadang satu orang wasit menjadi korban bogem mentah dari banyak pemain.

Melihat keadaan itu, wajarkah apabila sepak bola dikatakan lebih keras dibandingkan cabang olahraga tinju itu sendiri? Bisa jadi.

Tapi, jangan dilihat dari sudut pandang pertandingan di Liga Indonesia. Secara global, dengan menepikan kekerasan yang kadang terjadi, sepak bola tetap lebih keras dibandingkan tinju.

Tak percaya? Simak pernyataan Vladimir Klitschko, seorang juara tinju sejati asal Ukraina yang memegang sabuk kelas berat versi IBF, WBO, dan IBO.

Seperti ditulis The Telegraph, Klitschko hadir di salah satu boks eksekutif pada laga antara Chelsea versus Manchester United di Stamford Bridge, Sabtu (26/4) lalu. Dia hadir di markas Chelsea itu setelah sebelumnya menghadiri “Fight for Peace”, proyek amal yang digagas Laureus Sport for Good Foundation. Proyek untuk mengarahkan para remaja di Docklands, wilayah di timur Inggris, untuk menyalurkan energi berlebihnya via tinju atau olahraga bela diri lainnya dibandingkan tawuran di jalanan.

Dalam perjalanan ke Stamford Bridge dan ditemani manajernya Berndt Bunte, Klitschko berkata kepada Gareth A. Davies, salah seorang jurnalis The Daily Telegraph, “Apakah Anda pikir tinju adalah cabang olahraga paling keras? Salah. Sepak bolalah cabang olahraga yang paling keras.”

Apa yang membuat Klitschko berpendapat seperti itu? “Pertama, pertandingan sepak bola disaksikan lebih dari satu miliar lebih penduduk dunia. Para pemain pun bekerja sama dengan orang-orang yang sebenarnya bukanlah menjadi pilihan mereka. Jangankan lawan, mereka pun tak bisa memilih dengan siapa akan bekerja sama dalam satu tim,” ulas petinju yang dalam spell Inggris ditulis Wladimir Klitschko ini.

“Para pemain bola juga mendapatkan tekanan sepanjang waktu. Setiap saat sepak terjang mereka di dalam maupun di luar lapangan menjadi sorotan publik,” tambah Klitschko. “Di dunia tinju tidaklah demikian. Aku masih punya waktu untuk hal-hal pribadi dan waktu untuk persiapan jika mau ada pertandingan. Media justru akan ‘menjauhkan’ diri ketika aku akan menghadapi sebuah pertarungan. Sekali lagi aku tegaskan, sepak bola lebih keras dibandingkan tinju,” tandas Klitschko.

Setelah melihat pertandingan The Blues versus Red Devils, Klitschko tentu akan tertawa lebar lantaran pernyataannya terbukti benar. Di rerumputan Stamford Bridge, terlihat tekanan besar dialami kedua tim. Ketika mencetak gol pembuka, sontak Michael Ballack meluapkan emosinya dengan membuka kostum The Blues. Ganjaran kartu kuning tak dihiraukan lantaran baginya mencetak gol ke gawang MU lebih penting dibandingkan peringatan wasit.

Namun, tekanan paling besar tentu dirasa oleh para pemain MU yang posisinya kian terjepit oleh The Blues. Tak heran, ketika merasa dirugikan wasit, mereka melakukan protes keras. Bahkan, rasa emosi itu masih tetap terbawa hingga beberapa hari setelah pertandingan.

Hanya saja, emosi yang ditunjukkan kubu MU itu masih kalah dibandingkan jika situasi seperti itu terjadi di Liga Indonesia. Kalah dewasa maksudnya. Saling dorong hingga baku-pukul menjadi hal yang jamak.

Hmmm… tampaknya program “Fight for Peace” juga perlu diadakan di Indonesia. Terutama untuk para pemain. (*)

Wednesday, February 20, 2008

Alhamdulillah...


Penghargaan Bagi 10 Karya Jurnalistik Terbaik
20 Feb 2008

JAKARTA, 20 Februari 2008 – Copa Dji Sam Soe Indonesia tak hanya memberikan penghargaan bagi para pelaku di lapangan hijau. Kalangan media massa juga mendapat penghargaan. 10 karya jurnalistik terbaik yang masing-masing terdiri dari 5 foto terbaik dan 5 tulisan terbaik mendapat penghargaan di malam anugerah Bintang Emas Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007, Selasa (19/2), di Hotel Mulia, Jakarta.

Masing-masing pemenang mendapat hadiah Rp. 5 juta. Lomba penulisan dan foto ini diikuti media massa dari seluruh penjuru tanah air. Dewan juri terdiri dari para wartawan dan fotografer senior di Indonesia. Dewan juri diketuai oleh wartawan senior Mahfudin Nigara. “Saya harap, rekan-rekan yang belum berhasil menjadi pemenang tak kecil hati. Teruslah berkarya,” ujar Nigara.

Pemberian penghargaan bagi insan-insan pers bukan baru kali ini saja diselenggerakan Copa Dji Sam Soe. Pada Copa Dji Sam Soe Indonesia 2005 dan 2006, lomba serupa juga digelar. Tak hanya mendapat hadiah Rp. 5 juta. Para pemenang lomba karya jurnalistik Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 juga berkesempatan ikut ajang bergengsi lainnya.

“Semua karya pemenang ini otomatis akan diikutsertakan dalam ajang bergengsi Adiwarta Sampoerna,” kata Effendi Gazali, pengamat politik dan staf pengajar pascasarjana Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia yang tampil di atas panggung untuk membacakan nama-nama pemenang. Menurut Effendi, media massa sangat berperan dalam membangun sepakbola Indonesia. (Daf)

5 FOTO TERBAIK
“Kontras”, karya Rengga Sancaya (Top Skor)
“Kontras”, karya Husni Yamin (Top Skor)
“Duel Udara”, karya Sugeng Deas (Jawa Pos)
“Kepala Adu Kepala”, karya Danu Kusworo (Kompas)
“Persija Menang”, karya Andika Wahyu (Antara)

5 TULISAN TERBAIK
“Dari grassroots hingga pejabat”, karya Hanif (Soccer)
“Pembinaan sepakbola yang masih setengah-setengah”, karya Azhari Nasution (National News)
“Berduyun-duyun naik feri”, karya Ario Yosia (BOLA)
“Babak 16 besar mengarungi 23.700 km”, karya Jalu Wisnu Wirajati (Soccer)
“Menatap prestasi lewat Copa Dji Sam Soe”, karya Mussahada (Kedaulatan Rakyat)

Sumber:
http://www.djisamsoe.com/?opt=community&type=sepakbola&show=detail&pages=news&detail=1&id=2016

Friday, January 18, 2008

Aku ke selatan, dia ke utara


Entah apa yang membuatku begitu bersemangat untuk menyegerakan mandi sebelum pukul 07.00. Padahal, jangankan untuk mengguyurkan ke seluruh tubuh, berwudhu saja jelang shalat shubuh sudah membuatku malas lantaran bersentuhan dengan air di udara sedingin pagi di musim penghujan seperti ini.

“Uhhh… Andaikan setiap pagi kran air di kamar mandi berhenti mengalir, tentu aku bisa bersorak lantaran terbebas dari berwudhu. Andaikan aku hidup di Gurun Sahara, tentu aku bisa memulai kewajiban pagi hanya dengan bertayamum terlebih dulu.” Seperti itulah harapan semu yang selalu aku impikan setiap pagi.

Arloji yang telah kupakai menunjukkan pukul 07.23. Masih ada waktu 7 menit sebelum aku bisa segera mengetahui hal yang sangat kuharapkan sejak akhir pekan kemarin. Setelah mengoles rambutku dengan gel agar terlihat bak anak punk yang sedikit shaleh, aku pun segera bersepatu.

Pukul 07.28 aku telah berdiri di depan pintu kamar kostku. Mengunci pintu, kemudian melangkah ke barat menuju gang sempit yang menghubungiku dengan dunia luar. Tepat pada ujung lorong, aku berdiri sebentar. Jantungku pun berdegup kencang. Dia melangkah di hadapanku.

Dia akan berjalan melangkah di depanku. Dia berjalan santai menuju utara. Setelah dia melangkah kian jauh ke arah utara dan hampir tak tampak bayangan punggunya, aku pun melanjutkan perjalananku menuju kantor yang berada di barat. Dia tampaknya memang digariskan untuk menggoda jiwaku. Hal itu baru kusadari pada Kamis pekan lalu.


Pagi itu adalah matahari Kamis terakhir yang terbit di timur menjelang pergantian tahun. Aku tak bisa tidur lagi usai shalat shubuh lantaran sudah cukup kenyang mengabiskan malam di peraduan sejak pukul 21.00. Daripada bengong dan merasa kegerahan lantaran kipas angin di kamar mati, aku memutuskan mandi dan segera berangkat menuju kantor yang hanya berjarak sepelemparan batu.

Sedikit tergopoh-gopoh karena di mulutku masih tergigit sehelai roti tawar tanpa beroleskan apa pun, aku berjalan keluar dari kamar kost. Sesampainya di ujung lorong gang, tiba-tiba aku melihat sesosok makhluk cantik berjalan tak jauh di depan mataku. Dia berjalan dari arah selatan menuju utara. Sebuah keberuntungan aku bisa melihat makhluk indah ciptaan Sang Pencipta pada pagi hari sebelum melalui rutinitas kerja yang dipastikan bakal menimbulkan kekesalan di antara para karyawan. Saat itu, aku melirik arloji. Pukul 07.31.

Pada saat pertama melihatnya, aku hanya merasa tengah dinaungi keberuntungan. Dia sangatlah berbeda. Padanan warna yang membalut tubuhnya sangatlah indah dan padu padan. Alangkah beruntungnya aku jika bisa melihatnya lagi di lain waktu. Tapi, Pikiran itu kubuang jauh-jauh.

Sosok cantik seperti dia tentu tak bisa dikira. Bisa saja, dia punya janji makan yang berbeda. Bisa saja siang hari dia mampir makan di rumah Tuan A dan sorenya minum-minum di kafe dengan Mas B. Lagipula, lightning never striker twice in the same place, isn’t it?

Namun, pada hari itu, petir tampaknya menyambar tempat yang sama. Tempat yang menjadi penghubung dunia luar dengan kostku.


Sore hari, usai pulang kerja, dengan langkah gontai, aku berjalan menyusuri trotoar yang jika diukur memakai busur derajat manapun, akan berjumlah 180 derajat dengan tempatku bekerja. Kepalaku tak kuangkat. Hanya menatap trotoar yang bentuknya sudah tak keruan lantaran tergerus upaya modernisasi ibu kota negara yang mengklaim sebagai metropolitan ini. ”Pembangunan kabel internet, Mas,” jawab tukang gali ketika aku menanyakan untuk apa pipa dan lubang sebesar itu di depan gang menuju kostku.

Sore hari, aku pulang kantor lebih cepat. Sebab, hari itu aku merasa kesal sekali. Ingin rasanya mengeluarkan umpatan makian lantaran hari itu begitu buruk menurutku. Daripada aku bertahan dan gampang mengeluarkan kata makian, lebih baik aku ambil tasku dan segera beranjak pulang.

Aku kemudian memencet tanda panah ke bawah di depan pintu lift. Untuk kali pertama selama bekerja di salah satu media nasional ini, aku pulang sebelum jam besar di lobi kantor berdentang lima kali, tanda waktu normal karyawan pulang kerja.

Tak ada yang berani menyapaku saat keluar dari kantor. Di lift. Bahkan satpam di lobi depan yang biasa bercanda, tampaknya memahami dengan apa yang aku alami. Mereka bergeming.

Perjalanan dari kantor ke kost tak membutuhkan waktu lama. Tak sampai 10 menit aku sudah berada di gang yang kadang membuat dadaku terasa sempit karena setelah melangkah melalui jalan kompleks yang dihotmix, beralih ke jalan setapak yang tak disemen sama sekali. Andai awan yang menggelayut di atas kota sudah memuntahkan isi perutnya, alamat bagian bawah sepatuku akan berhiaskan tanah abang yang pekat. Itu berarti, menambah pekerjaan kasar sebelum masuk ke kamar kost.

Tepat pada pukul 05.00, saat aku tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dia. Ya, dia yang juga melintas di hadapanku jelang berangkat ke kantor, kini muncul saat aku pulang kerja. Dia berjalan pelan menuju selatan. Arah mata angin yang berlawanan dibandingkan saat dia pergi di pagi hari.

Jiwa investigatif layaknya seorang kuli tinta ini kemudian tergerak untuk mencari tahu. ”Apakah dia selalu pergi dan pulang sesuai jadwal reguler?” Begitu pikirku.

Keesokan harinya, aku mencoba mencari tahu. Tepat pada pukul 07.30 aku sudah berada di ujung gang. Dan, benar saja, hanya butuh waktu semenit, dia kembali muncul. Juga dengan gerak anggun yang sama. Melangkah dari selatan ke utara.

Sore harinya, aku kembali pulang lebih cepat. Sebelum pukul 17.00 aku sudah berada di depan gang kostu. Lagi-lagi, keinginan saya terkabul. Dia kembali muncul di hadapanku. Sama seperti di pagi hari, tak sekali pun dia menolehkan pandangannya kepadaku. Toh, hal itu justru membuat darahku tergelak dan denyut nadi ini semakin kencang laksana genderang mau perang....


Secara tanpa sengaja, aku merasa, kami terikat oleh lingkaran waktu. Setiap pukul 07.30 tiap harinya, dia akan melakukan repetisi yang sama. Berjalan dari arah selatan menuju utara. Dan, hingga tiga bulan telah berlalu, musim hujan mulai beralih ke musim kemarau, belum sekali pun dia memalingkan wajah kepadaku. Padahal, nyaris setiap hari dia melintas di hadapanku.

April tampaknya menjadi bulan keberuntungangku. Sejak masih bayi, banyak hal yang membahagiakan terjadi pada bulan keempat menurut tarikh masehi ini. Ibuku pernah berkata, saat berumur tujuh bulan, dia sempat lupa menutup ranjang bayi saat berangkat tidur. Akibatnya, aku nyaris terjatuh dari ranjang berwarna hijau itu. Beruntung, saat nyaris terjatuh, ayahku yang lembur membuka pintu kamar dan langsung melompat untuk menahan aku terjatuh dari ketinggian 50 centimeter.

Saat aku beranjak dewasa, makin banyak anugerah yang dilimpahkan Allah kepadaku di bulan April. Mulai dari cinta monyet pertama, kartu kredit pertama, hingga merasakan lulus dari salah satu universitas negeri beken di tanah air. Meski indeks prestasi pas-pasan, aku merasa bangga lantaran menyelesaikan ujian komprehensif dengan waktu tercepat, hanya 25 menit! Tercepat untuk seluruh jurusan yang ada di fakultasku.

Dua kejadian membahagiakan terakhir yang kuingat pada April ini terkait dengan tempat kerjaku sekarang juga pasangan resmiku. Pada 1 April, tiga tahun lalu, aku diangkat menjadi karyawan di salah satu anak perusahaan media terbesar di tanah air. Tahun lalu, pada 23 April, aku menembak perempuan yang kini telah menganugerahiku seorang putra berumur satu bulan.

Kini, keberuntungan lain tampaknya terhampar di depanku. Pada 26 April, empat bulan setelah pertemuan pertamaku dengan dia, aku berkesempatan melihat detail wajahnya. Saat itu, aku menjatuhkan handphone yang asalnya ingin dimasukkan ke dalam saku celana usai menelepon. Aku pun membungkuk mengambilnya. Tepat pada saat itulah aku melihat matanya. Sorot mata nan indah pun tajam. Pandangan yang bisa menggetarkan para pecinta dia.


Tatapan mata pada pagi itu memang telah membuat rasa penasaranku akan sorot matanya sedikt terobati. Namun, rasa penasaran lain muncul. Sejak aku melihat mata indah itu, tak sekali pun aku melihatnya lagi. Sudah beberapa hari aku tak melihat dia melintas di hadapanku padahal telah berulang kali aku menyengajakan untuk pergi lebih pagi dan pulang lebih cepat.

Bulan pun berganti. Angin musim kemarau kian kencang meniup dedaunan kering di depan kamar kostku. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil menyelinap melalui sela-sela pintu dan masuk sehingga mengotori kamar kostku.

Meski begitu, aku tak ambil pusing. Bagiku, kehilangan dia selama 7 hari terakhir lebih menimbulkan pertanyaan. Hal itu juga sempat membuat khawatir istriku yang tinggal di kota kelahirannya. Tanpa rasa cemburu, melalui telepon, dia mengatakan, ”Sudah, tanyakan saja kepada tetanggamu. Pasti ada yang mengenalnya.”

Atas saran istri jualah, aku memberanikan diri untuk mencari tahu tentang dia. Enam orang pertama yang kukenal hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala. Orang ketujuh hingga keenam belas ditanya, ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. ”Saya pun kangen. Padahal, belum sekali pun saya mengajaknya untuk makan di rumahku,” bilang orang keempat belas. Dengan redaksional berbeda, 9 orang lainnya menjawab senada.

Baru pada sosok ketujuh belas aku menemukan jawaban. Orang itu seorang pria berumur 56 tahun dengan rambut hitam kemerahan akibat memakai semir murahan. Dia adalah seorang penjaja buah-buahan di pinggir jalan raya, dekat kantor dan kostku. Namun, bukan jawaban yang membuat hati ini cerah. Justru penjelasan memilukan yang membuat hati ini merasa bergetar hebat menahan rasa iba.

”Seminggu yang lalu, ketika coba melintasi jalan ini, dia tertabrak motor. Tubuhnya terpelanting hebat hingga terperosok ke dalam selokan sebelah sana,” jelas si penjual buah seraya mengacungkan pisau sebagai alat bantu menunjukkan arah. Ujung mata pisau itu mengarah ke ruas selokan di depan kantor yang menerbitkan petunjuk buku telepon.

Aku pun beringsut bergerak menuju arah yang dimaksud. Begitu aku melongokkan kepala, tak kuasa kornea ini menahan ait mata. Aku melihat sosok indah yang selama empat bulan ini melangkah ke utara saat aku pergi bekerja dan melintas ke selatan saat aku pulang, hidupnya berakhir dengan tragis. Kucing berbulu laksana tembaga itu kini tinggal tersisa tulang dan kulitnya yang telah mengering. Tak ada lagi keindahan yang tersisa.

Sunday, December 9, 2007

Dua sisi mata uang

Allah SWT memang mengetahui mana yang terbaik buat hamba-Nya.
Ketika memberikan berkah, di sisi lain Dia pun akan menguji sang hamba dengan cobaan yang diberikan.

Itulah yang dialami kala saya bersyukur menyambut kehadiran putra pertama kami. Pada saat menunggu istri menunggu detik-detik lahiran. Atau tepatnya ketika masih pada tahap Bukaan 4, istri saya melihat ada bintil di bawah leher. Saya awalnya - juga diyakini oleh perawat yang menemani istri saya - itu adalah jerawat.
Namun, kondisi fisik saya yang sudah hareeng alias demam dari semalam jelas mempunyai indikasi lain. Saya mendapatkan cacar air. Bingo...
Tapi, cacar air adalah penyakit yang akan menular ketika pasien sudah memasuki taraf penyembuhan. Berbekal Basmalah, saya meneruskan untuk menemani istri saya lahiran - meski tak berada satu ruangan dengannya.

Begitu tangis sang jagoan kecil terdengar, tak kuasa saya menahan derai air mata. Padahal, saya sebelumnya berprinsip, "Laki-laki sejati dilahirkan di dunia bukan untuk meneteskan air mata, melainkan darah!" But, dalam hal ini, perasaan saya sebagai seorang laki-laki sejati tak bisa dibohongi. Air mata itu bukanlah antitesis dari sifat maskulin laki-laki. Sebatas ucapan syukur yang tak terucapkan kepada Sang Pencipta.

Kembali ke pokok persoalan, lantaran cacar dan takut menulari sang junior, maka saya mendelegasikan tugas melantunkan adzan dan iqamah kepada kakek dari sang bayi. Saya sendiri tak kuasa untuk beranjak karena kondisi badan semakin panas. Saya pun terpaku di kursi di salah satu sudut ruang tunggu.

Benar saja, usai dari rumah sakit dan kemudian ke dokter, saya divonis menderita cacar air. Saya diharuskan beristirahat 10 hari lamanya. Sebetulnya, waktu penyembuhan hanya memakan waktu seminggu. Namun karena penyakit ini tergolong Virula saat memasuki masa penyembuhan, maka saya diberi waktu istirahat lebih untuk tidak menulari rekan-rekan baik teman sekantor maupun sepermainan.


Istirahat. Mungkin memang itulah yang saya butuhkan. Namun, ada hal lain yang membuat saya sedih dengan keadaan itu. Saya terpaksa diisolasi dan tidak tinggal bareng istri dan anak. Saya dikembalikan kepada orangtua sementara mereka tinggal bareng mertua. Hingga tulisan ini dipublikasikan, belum sekali pun saya menggendong bahkan menyentuh Gentza. Tapi, saya percaya, Allah Maha Mengetahui. Dia tahu yang terbaik buat hamba-Nya.

Sabar ya Gentza...

Gentza Manah Wirabuana


Alhamdulillah...
Akhirnya putra pertama kami lahir sesuai dengan waktu perkiraan dr. Udin Sabarudin, SpOG.
Pada Selasa, 27 November 2007 atau bertepatan dengan 17 Dzulqaidah 1428 H pukul 14.40 WIB, istri saya melahirkan putra pertama kami di RSIA Tedja, Bandung.
Setelah menahan mules - sejak pertama kali merasakan pada pukul 03.30 WIB - istri saya berhasil melahirkan secara normal bayi laki-laki dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg.

Bayi itu kemudian kami beri nama Gentza Manah Wirabuana. Sesuai perjanjian dengan para saudara sepupu satu klan, kami memang sepakat untuk memberi nama anak dengan menggunakan kata yang berawalan huruf G. Kata Gentza sendiri saya ambil dari bahasa Basque - salah satu suku bangsa di Spanyol selain Andalusia dan Katalan - yang mempunyai arti kedamaian.

Kata kedua kami ambil dari bahasa Sunda. Dan memang sudah keinginan saya pribadi untuk menggunakan bahasa ibu pada salah satu unsur nama dari anak kami. Manah sendiri berarti hati.

Sementara, unsur nama ketiga berasal dari bahasa sansekerta. Asalnya saya akan menggunakan nama Jagadditha yang berarti mensejahterakan dunia. Namun, istri saya mengatakan agar nama ketiga mempunyai padanan dengan nama ayahnya. Maka dipilihlah penggalan Wira yang diambil dari nama ketiga saya Wirajati. Dan, buana merupakan padanan dari kata dunia. Sedangkan Wira berarti perwira atau laki-laki yang mempunyai sifat ksatria dan berguna.

Jadi, secara keseluruhan, arti nama putra pertama saya itu bisa diartikan Laki-laki yang memberikan kedamaian di hati dan berguna bagi dunia. Itulah doa kami bagi putra pertama kami. Amin...

Friday, November 23, 2007

At last...

Setelah lama disibukkan oleh banyak hal menyangkut urusan duniawi, akhirnya saya bisa kembali menulis di blog tercinta ini. Pekerjaan kantor seperti yang tidak akan habis-habis dan rasa malas memang sempat membuat saya malas, bahkan untuk sekadar membuka blog ini. Tengok saja, postingan terakhir yang saya masukkan adalah saat usai berbulan madu dari Bali. Kini, saya sedang deg-degan menunggu kelahiran buah hati kami yang diprediksi oleh dokter akan lahir pada Selasa, 27 November ini.

Banyak yang bilang, menunggu mempunyai arti tak jauh beda dengan menanti. Sebab, dalam kamus besar bahasa Indonesia pun dijelaskan seperti itu. Tunggu = 1. Nanti vice versa Nanti = 1. Tunggu

Tapi, benarkah bisa diumpamakan seperti itu?

Contoh saja situasi yang saya alami hari ini. Mana yang benar, apakah saya sedang deg-degan menanti kelahiran sang buah hati, atau saya sedang deg-degan menunggu kelahiran sang buah hati?

Tampaknya saya cenderung memakai kalimat yang kedua. Sebab, penekanan dalam kata menunggu adalah (tanpa bermaksud mendahulukan kehendak Sang Kuasa) sesuatu yang pasti. Beda halnya dengan penantian, sebuah pekerjaan hal yang belum jelas juntrungannya.

Kini yang menjadi persoalan, jika nanti dan tunggu mempunyai arti yang sama, apakah kata Penantian bisa diganti dengan Penungguan?

Hmmm… yang jelas, saat ini saya tengah menikmati rasa deg-degan yang berkecamuk di hati saya… Salam...

Tuesday, February 27, 2007

Bali.. Oh Bali...


Setelah sekian lama, pertengahan Februari lalu saya berkesempatan kembali mengunjungi Bali, Pulau Dewata yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi tempat tujuan wisata para pelancong dari mancanegara. Namun, ada yang berbeda dari saat pertama saya mengunjungi Bali sewaktu kelas 1 SD dengan yang terakhir kali ini. Bukan dari pembangunan infrastruktur yang semakin maju. Melainkan dari jumlah wisatawan yang semakin jauh berkurang.
Bom yang meletus dua kali di pulau itu tampaknya yang menjadi penyebab kemunduran itu. Saat pertama, saya menyalahkan pelaku pemboman itu. Terkadang juga terpikirkan bahwa yang menskenario ledakan itu adalah pihak barat yang sengaja ingin menghancurkan citra negeri ini. Namun, dari kunjungan terakhir ke Bali itu, skenario baru pencetus ledakan itu terpikirkan.

Siapa? Pemerintah Malaysia.

Begini dasar pemikiran saya. Imam Samudra atau Amrozi memang adalah (diduga) pelaku pemboman itu. Namun, siapa dalang di balik itu? Dr. Azahari dan Nurdin M. Top, keduanya adalah warga negara Malaysia.

Lantas, apa hubungannya dengan pemerintah Malaysia? Pariwisata.

Bisa saja, pemerintah Malaysia iri dengan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Karena itulah, demi menggalakkan pariwisata di daerahnya, Malaysia meminta dua orang itu untuk merencanakan pengeboman terhadap Bali. Dengan harapan, ada ketakutan dari negara-negara Barat untuk mengizinkan warganya berkunjung ke Bali. Sehingga, Malaysia yang secara teritorial merupakan tetangga Indonesia, "kecipratan" luberan wisatawan dari barat.

Ini baru anggapan saja. Bukan sebuah fakta atau aksioma. Namun, anggapan saya ini berdasar pada jumlah wisatawan barat yang datang ke Malaysia semakin bertambah - sejak kasus Bom Bali - seiring dengan penurunan jumlah wisman yang datang ke Bali.
Wallahualam....

Wednesday, January 17, 2007

Indonesia Raya...


Kemarin saya mengikuti pelatihan yang diadakan di kantor. Temanya adalah tentang Motivasi dan teknik Coaching orang. Bukan hasil akhir yang membuatku terkesan. Tapi cara instruktur itu memulai pelatihan. Dia memulainya dengan mengajak semua peserta berdiri kemudian menghadap Sang Merah Putih (Bukan Sang Saka Merah Putih, Pasal 35 UUD 1945) sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.

What an amazing...
Bukan lantaran saya sudah lebih dari 8 tahun tak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia itu. Tapi, saya merasakan energi positif ketika menyanyikan lagu yang dibuat pada 1928 itu secara bersama-sama, khidmat, dan penuh perasaan. Meski saya belum memberikan jasa besar bagi negeri ini, tapi saat itu saya merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami Taufik Hidayat ketika merebut medali emas pada Olimpiade Athena 2004 lalu.
Apakah upacara seperti itu jika dilakukan di rumah akan menghadirkan kegairahan yang sama? Keesokan paginya, saya mencoba mengulangi ritus itu sendiri. Yang menjadi pembeda adalah saya melakukannya dengan diiringi lagu Indonesia Raya yang disiarkan salah satu televisi nasional ketika membuka hari. Hmmm... energi yang sama kurasakan juga. Hal yang membuatku membuka hari dengan semangat.

Saya pun berpikir, apa jadinya apabila seluruh rakyat Indonesia melakukan ritus itu setiap paginya? Mungkin efeknya akan sama dengan yang biasa orang Jepang dilakukan di pagi hari, ketika membungkuk ke arah matahari setiap pukul 7 pagi. Ingat, dengan kebiasaan itu, Jepang kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Saya berandai-andai saja. Andaikan kebiasaan menyanyikan Indonesia Raya, bisakah negara ini maju seperti bangsa Jepang? Bisa jadi. Sebab, jika dilihat dari masalah sumber daya, Indonesia jelas lebih kaya dibandingkan Negeri Bunga Seruni itu, baik sumber daya alam pun manusia. Masalah kepintaran pun bisa diadu. Beberapa siswa dari negeri ini sanggup meraih medali emas pada olimpiade ilmu pengetahuan yang notabene diikuti negara-negara besar di seluruh dunia. Soal fisik pun kita jelas lebih hebat dibandingkan negara yang pernah menjajah kita selama 3,5 tahun itu.

Lantas, apa yang membedakan kita dengan Jepang? Mental.... Akibat penjajahan yang lama menimpa negeri ini, mental bangsa kita tetaplah seperti kurcaci. Sikap positif yang ada terkungkung oleh paradigma negatif yang telah ditanamkan ke otak kita sejak bayi. Ketakutan dan kekhawatiran masih menjadi salah satu faktor penimbang kita dalam menetapkan keputusan. Tanpa sadar, terbentuk LOW TRUST SOCIETY di negeri ini.

Apa hubungannya dengan Indonesia Raya? Mungkin tidak akan langsung mengubah dogma dan paradigma yang telah mengakar di masyarakat kita. Tapi, lagu itu setidaknya bisa membangkitkan ghirah alias semangat juang kita dalam menyikapi hidup. Setidaknya sejak kita menyanyikan lagu itu hingga terlelap kembali. Mungkin jika itu dilakukan berkali-kali dan bersifat umum, lambat laun kita bisa menjadi bangsa yang setidaknya lebih maju dari saat ini.

Setidaknya, itulah yang dirasakan saya ketika menyanyikan lagu karangan Wage Rudolf Supratman itu. Sekali-kali, cobalah Anda mencobanya? Tapi, beri tahu dulu orang rumah, rekan satu kost, atau pasangan Anda. Alih-alih ingin membangkitkan energi positif, namun justru dianggap "negatif" :p